Usaha Penunjang Migas Butuh US$ 12 Miliar untuk Belanja
Kamis, 09 Agu 2007 14:43 WIB
Jakarta - Usaha penunjang migas di Indonesia membutuhkan setidaknya US$ 12 miliar untuk kebutuhan belanja barang dan jasa per tahunnya. Dirjen Migas Luluk Sumiarso menjelaskan, dari kebutuhan itu, US$ 9 miliar diantaranya untuk sektor hulu dan sisanya untuk sektor hilir. Sayangnya, kebutuhan dana tersebut lebih banyak dipasok oleh perbankan asing daripada perbankan nasional. Minimnya pendanaan perbankan lokal di sektor penunjang migas dikarenakan dua hal. Pertama, karena kalah bersaing dengan bunga perbankan luar negeri. Kedua, karena tingginya resiko di sektor migas ini. Deputi Gubernur BI Muliaman Hadad menjelaskan disela-sela seminar migas di gedung Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (9/8/2007). Menurutnya, karena bunga pinjaman dari luar negeri tergolong rendah, membuat perbankan dalam negeri sulit bersaing. "Sumber dari luar negeri memang reltif murah. Tantangannya itu kemudian bagaimana bank-bank domestik bisa bersaing, terutama dalam pricing," katanya. Sedangkan terkait resiko, sektor migas memang terkenal dengan resiko dan ketidakpastian yang tinggi. Terutama di sektor hulunya.Ini terbukti dengan NPL migas Juni 2007 sebesar 4,41%. Inipun sudah turun dibanding Desember 2006 yang sebesar 9,35%. Padahal standarnya, NPL dibawah 5%. Menanggapi itu, Dirjen Migas Luluk Sumiarso menyatakan, pihaknya berharap perbankan nasional mau ikut serta di pembiayaan sektor migas. "Kita membuka, ini lho ada peluang bisnis. Selama ini kan kurang komunikasi antara sektor migas dan perbankan," katanya. Bentuk SindikasiMuliaman juga menyarankan agar perbankan nasional disarankan membentuk sindikasi dalam melakukan pendanaan di sektor penunjang migas. Terutama untuk pendanaan proyek besar. Muliaman menjelaskan, dengan begitu bank-bank tersebut bisa berbagi resiko, sehingga bunga yang diberikan pun bisa rendah. "Saya lebih senang kalau yang (bank) besar-besar tentunya sindikasi. Karena bank-bank itu ada batasannya. Dengan sindikasi, risiko bisa lebih rendah, pricing bisa lebih murah," katanya. Pertumbuhan kredit di sub sektor migas pada Juni 2007 memang tumbuh signifikan, sebesar 516,5% dibanding Januari 2004. Lebih lanjut Muliaman menjelaskan, untuk usaha penunjang migas yang skalanya kecil, bisa dikucurkan langsung tanpa sindikasi.
(lih/qom)











































