Cadangan Devisa Berkurang US$ 600 Juta untuk Intervensi dan Bayar Utang

Cadangan Devisa Berkurang US$ 600 Juta untuk Intervensi dan Bayar Utang

- detikFinance
Senin, 27 Agu 2007 13:44 WIB
Jakarta - Pelemahan rupiah yang sempat terjadi dalam beberapa pekan terakhir ikut menggerogoti cadangan devisa. Ditambah untuk pembayaran utang, total cadangan devisa berkurang hingga US$ 600 juta."Ya, berkurangnya sekitar segitu," ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Aslim Tadjudin saat dikonfirmasi apakah benar cadangan devisa sudah berkurang US$ 600 juta.Dalam rapat kerja yang berlangsung di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Senin (27/8/2007), anggota DPR Dradjad H. Wibowo sempat melontarkan pertanyaan tentang berkurangnya cadangan devisa hingga US$ 600 juta."Apakah benar itu untuk intervensi rupiah?" tanya Dradjad.Usai rapat kerja, wartawan pun kembali menanyakan kepada Aslim tentang masalah tersebut. Namun Aslim mengaku belum tahu persisnya angka cadangan devisa.Aslim menjelaskan, hingga 24 Agustus lalu, cadangan devisa sudah berada di posisi US$ 51,73 miliar. Ini berarti hanya turun kurang dari US$ 200 juta, jika dibandingkan posisi per akhir Juli yang sebesar US$ 51,88 miliar.Berarti hanya berkurang US$ 200 juta? "Nggak, lebih dari itu," tegas Aslim usai rapat kerja.Menurut Aslim, BI harus merogoh cadangan devisa untuk meredam gejolak rupiah dan juga pembayaran utang yang jatuh tempo."Cadangan devisa berkurang karena kita perlu untuk intervensi, dan juga menjaga volatilitas rupiah. Tapi selain itu juga, kita perlu juga untuk pembayaran utang. Kan ada jadwalnya tuh," jelasnya. Menurutnya, BI harus menjaga rupiah yang sempat melemah karena adanya krisis subprime mortgage. Namun penurunan suku bunga diskonto oleh Bank Sentral AS telah meredakan krisis tersebut."Mudah-mudahan itu bisa mengurangi dampak dari subprime dan juga memberikan dampak positif bagi kita terutama pada nilai tukar. Harapan saya sih nilai tukar akan kembali ke level 9.000-an (per dolar AS)," harap Aslim. (qom/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads