Pembiayaan Dalam Negeri Jadi Andalan Penutup Defisit

Pembiayaan Dalam Negeri Jadi Andalan Penutup Defisit

- detikFinance
Kamis, 30 Agu 2007 09:29 WIB
Jakarta - Untuk membiayai defisit APBN 2008, pemerintah akan bergantung kepada instrumen pembiayaan dalam negeri dalam bentuk penerbitan Surat Utang Negara (SUN). Hal ini diungkapkan oleh Dirjen Pengelolaan Utang Departemen Keuangan Rahmat Waluyanto di sela-sela Rapat antara Menteri Keuangan dan Bank Indonesia dengan Panitia Anggaran DPR RI, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (29/8/2007) malam. "SUN yaitu SBN (Surat Berharga Negara) dan SBSN (Surat Berharga Syariah Negara) atau sukuk yang undang-undangnya sedang dibahas di DPR. SBSN profilnya akan sama dengan SBN tapi dia syariah," jelasnya. Menurutnya, SBN dan SBSN ini nantinya akan diandalkan untuk penerbitan di dalam negeri, meskipun pemerintah juga berencana untuk menerbitkannya di luar negeri. "Jadi yang dihindari itu adalah pinjaman bilateral, multilateral antar negara, terutama kalau pinjaman komersial dari bank luar negeri, jadi yang kita kurangi ialah pinjaman luar negeri dan yang ditambah adalah SBN karena dia dari capital market, dan akan banyak manfaatnya bagi perkembangan pasar modal di dalam negeri," ucapnya. Rahmat mengatakan bahwa pada tahun 2008 potensi pasar obligasi di Indonesia masih terbuka lebar. "Karena masih banyak investor yang belum kita serap seperti investor sukuk kan belum," tambahnya. Dalam RAPBN 2008, pemerintah mentargetkan pembiayaan dalam negeri dari penerbitan SUN netto sebesar Rp 91,7 triliun, meningkat dari target APBN-P 2007 yang sebesar Rp 70,8 triliun. Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam Rapat dengan Panitia Anggaran DPR juga mengatakan bahwa kebijakan pembiayaan di 2008, pemerintah berorientasi pada upaya pembiayaan yang stabil dan berkesinambungan dengan beban dan resiko yang minimal. Oleh karena itu pemerintah di 2008 akan memaksimalkan sumber pembiayaan dalam negeri. Pembiayaan defisit APBN didominasi oleh Utang khususnya utang dalam negeri. "Diperlukan kedisiplinan pemerintah dalam menjaga kepercayaan pasar uang dan pasar modal serta meningkatkan peringkat utang," jelasnya. (dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads