Agus Marto Keluhkan Diskriminasi
Kamis, 30 Agu 2007 11:32 WIB
Jakarta - Di Indonesia, kebijakan perbankan boleh dikatakan sangat ramah terhadap perbankan asing. Bank asing boleh membuka kantor cabang di Jakarta dan para agen pamasarannya bisa menyebar hingga ke daerah-daerah di Indonesia.Namun hal itu tidak berlaku bagi perbankan Indonesia yang membuka kantor di negara lain seperti Cina. Negara itu seperti enggan membuka diri bagi perbankan dari Indonesia.Misalnya kisah Bank Mandiri yang ingin membuka kantor cabang di Cina. Status kantor Bank Mandiri di Cina baru perwakilan atau representatif belum kantor cabang resmi.Curhatan tersebut disampaikan Dirut Bank Mandiri Agus Martowardojo dalam temu media 2007 di Plasa Mandiri, Jalan Gatot Subroto Jakarta, Kamis (30/8/2008)."Indonesia itu liberal sekali. Cina kita sudah welcome, kan di sini ada ICBC, ada Bank of China, dan marketing-nya bisa sampai Majalengka, Garut bahkan Papua. Tapi kantor kita di Cina masih representatif, belum jadi cabang," curhatnya.Dia mencontohkan lagi, bank Singapura UoB sudah bisa membuka money changer di Bandara Soekarno Hatta."Kapan kita bisa bikin Mandiri Money Changer di Changi Airport?" tanyanya.Namun wajah Agus berubah jadi ceria saat menceritakan kinerja Bank Mandiri. Menurut bankir senior ini, kinerja Bank Mandiri kini lebih bagus. Pendapatan bank Mandiri hingga Juni 2007 mencapai Rp 2,1 triliun, biaya yang dikeluarkan Bank Mandiri bisa ditekan karena efisiensi.Hal ini terlihat dari net interest margin (NIM) yang naik dari 4,2 persen menjadi 5,5 persen."NIM kita terus tumbuh di saat bank umum yang lain mengalami penurunan," ujarnya.Agus kini bisa tersenyum lega. "Kita sudah tidak tegang lagi, udah bsa senyum," ujarnya sambil tertawa.Bank Mandiri sudah membiayai pembangunan 13 ruas jalan tol. Dan akhir-akhir ini Bank Mandiri menyalurkan US$ 100 juta untuk pembangunan infrastruktur gas dengan PT Perusahaan Gas Negara Tbk.
(ddn/qom)











































