Gara-gara Krisis Subprime, Pemerintah Bidik Investor Lokal
Senin, 10 Sep 2007 17:30 WIB
Jakarta -
Gejolak di pasar finansial akibat masalah krisis subprime membuat investor asing masih belum yakin. Untuk itu, pemerintah akan lebih fokus menggarap investor lokal.Kedepannya, pemerintah akan fokus pada penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) yang ditujukan kepada investor ritel dalam negeri karena mereka dinilai lebih stabil dibandingkan dengan investor luar. Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam jumpa pers di Graha Sawala, Gedung Departemen Keuangan, Jakarta, Senin (10/9/2007). "Appetite investor ORI003 ini besar meskipun kondisi pasar yangg tidak pasti dari bulan Juli dan sepanjang Agustus, bahkan sampai sekarang masih ada reaksi dari pengumuman atau informasi dari negara Amerika terutama mengenai kerugian akibat subprime dan ini masih akan berlanjut," jelasnya. Menkeu menambahkan, basis investor asing sedang tidak stabil terutama dengan munculnya krisis subprime mortgage di AS. Hal itu menyebabkan investor asing terus mengubah porsi instrumen portofolionya."Karena itu kita akan memfokuskan diri kepada investor ritel dalam negeri untuk mendapatkan basis investor yang stabil dibanding investor luar, kita juga tahu bahwa return yang diberikan oleh ORI kan juga cukup besar," tuturnya.Untuk ORI003, Menkeu mengungkapkan, jika dilihat dari karakteristik investornya kebanyakan adalah investor yang membeli antara Rp 5 hingga 50 juta. "Mereka tidak sangat terpengaruh karena ORI ini hanya next pilihan dari mereka di samping instrumen deposito yang menjadi pilihan utama, selain itu mereka juga melihat dari sisi keamanan instrumen," paparnya. Menkeu mengaku cukup puas dengan penerbitan ORI003 yang dianggapnya cukup sukses. Namun pemerintah tidak berencana menerbitkan ORI lagi di tahun 2007 ini. "Saya kira tahun ini penerbitan ORI sudah cukup, tapi kita akan tetap terbitkan instrumen lain secara reguler dan kondisi market juga akan menjadi bahan pertimbangan kita dalam penerbitannya," jelasnya. Pada kesempatan yang sama, Dirjen Pengelolaan Utang Negara Rahmat Waluyanto mengatakan bahwa jumlah penerbitan Surat Utang Negara (SUN) Netto saat ini secara nominal sudah hampir mendekati target sesuai dengan defisit APBNP 2007 yang sebesar 1,55 persen atau Rp 58,6 triliun.
(dnl/qom)










































