NPL Real Estate Mendominasi
Rabu, 12 Sep 2007 13:55 WIB
Jakarta - Dari kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) sektor properti, porsi NPL real estate mendominasi. Berdasarkan data BI per Juni 2007 terdapat pada kredit real estate yang NPL-nya sebesar 7,08% atau secara nominal bernilai Rp 1,233 miliar. Untuk NPL terbesar keua adalah di sektor kredit konstruksi yang sebesar 5,76 persen atau sebesar Rp 1,789 miliar. "Lalu yang ketiga adalah NPL di sektor KPR dan KPA yang sebesar 3,8 persen atau secara nominal sebesar Rp 3,316 miliar," ujar Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan Bank Indonesia Halim Alamsyah di sela seminar Hasil Survei Properti di Indonesia yang digelar di Gedung BI, Jalan Thamrin, Jakarta (12/9/2007). Namun menurut Halim, BI sudah tidak lagi memberikan perhatian khusus kepada NPL untuk kredit di sektor properti di Indonesia. "Hal ini dikarenakan hingga bulan Juni 2007 NPL kredit properti sebesar 4,7 persen atau Rp 6,15 miliar, jadi masih di bawah 5 persen," jelasnya. Sementara itu total kredit properti hingga Juni 2007 hanya sebesar 14,48 persen dari total keseluruhan penyaluran kredit. Lalu total NPL kredit properti saat ini dikatakan Halim mengalami tren penurunan. "Sebelum krisis NPL di sektor properti mencapai lebih dari 30 persen, sementara pada tahun 1999 NPL sektor properti sebesar sekitar 29 persen," paparnya. Angka kredit properti naik cukup signifikan dari Rp 126 miliar per Mei 2007, pada bulan Juni 2007 sudah capai Rp 130,9 miliar. "Hal itu menjadi salah satu indikator yang baik bagi suatu negara karena sehatnya ekonomi negara tersebut," tambah Halim. Meningkatnya kredit properti menurut Halim terkait 3 hal. pertama situasi pendapatan masyarakat dimana naiknya pertumbuhan ekonomi suatu negara akan diikuti oleh naiknya pendapatan masyarakat yang dapat memicu meningkatnya daya beli masyarakat. Faktor kedua adalah multiplier industri, dan yang ketiga adalah prospek perekonomian yang lebih besar.
(dnl/qom)











































