BI Harus Kuat Hadapi Gejolak Pasar Global
Senin, 17 Sep 2007 17:14 WIB
Jakarta - Bank Indonesia (BI) harus mampu menjaga ketahanan perekonomian dan sistem keuangan nasional dalam menghadapi perubahan dan dinamika pasar keuangan serta gejolak perekonomian global.Demikian disampaikan calon Deputi Gubernur BI Ardhayadi M, yang kini menjabat Direktur Pengawasan Perbankan 2 yang juga mantan Kepala Perwakilan Kantor BI London, saat mengikuti fit and proper test calon Deputi Gubernur BI di Komisi XI DPR RI di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Senin (17/9/2007)."Hal ini menjadi penting dengan semakin luasnya tren perkembangan dan gejolak perekonomian dan keuangan secara global serta penilaian seberapa jauh pengaruhnya terhadap stabilitas dan ketahanan perekonomian nasional," ucapnya.Dia bahkan mengatakan bahwa fakta terjadinya permasalahan US Subprime Mortgage yang berdampak terjadinya kesulitan likuiditas memicu gejolak harga di pasar saham dan keuangan internasional. "Karena itu tantangan yang dihadapi pemerintah selaku otoritas fiskal dan sektor riil semakin kompleks di dalam menghadapi arus dan proses globalisasi, untuk ke depan koordinasi otoritas moneter dan pemerintah menjadi semakin penting," paparnya.Ardhayadi juga mengatakan bahwa ke depannya pengelolaan keuangan intern harus dapat diarahkan pada kondisi keuangan yang sehat dan kuat dengan strategi jangka panjang.Oleh karena itu untuk mengatasi tantangan globalisasi maka perumusan kebijakan dan strategi moneter harus lebih terkoordinasi dengan perumusan kebijakan di bidang fiskal dan sektor riil. "Sementara dari sisi BI, strategi dan sinergi kebijakan makro, stabilitas keuangan, sistem pembayaran dan kebijakan pengelolaan sumber daya internal dengan kondisi keuangan yang berkelanjutan sangatlah penting," tuturnya.Selain itu, dia juga mengatakan bahwa pengembangan pembentukan lembaga keuangan khusus bagi UMKM perlu sehingga dapat diarahkan untuk memperkuat ketahanan perekonomian nasional. "Menurut pemikiran saya, menghadapi globalisasi keuangan dewasa ini, maka ekonomi Indonesia memerlukan lembaga keuangan yang khusus dibentuk untuk melayani UMKM," jelasnya.Ardhayadi juga menjelaskan mengenai perlunya penurunan dana SBI yangmengakibatkan beban BI sangat berat. "Makin meningkatnya dana SBI dalam jangka menengah menurut saya akan mengurangi efektifitas tugas pokok BI yaitu mencapai dan memelihara stabilitas moneter dan sistem keuangan, besarnya beban pengendalian moneter ini merupakan faktor utama yang memberatkan kondisi keuangan BI yang pada akhirnya dapat mengurangi modal BI," tuturnya.
(dnl/ir)











































