Dana Asing Kembali, BI Waspada

Dana Asing Kembali, BI Waspada

- detikFinance
Kamis, 20 Sep 2007 08:57 WIB
Jakarta - Pascaterjadinya krisis pasar finansial akibat badai subprime mortgage AS, dana-dana asing kembali masuk ke Indonesia melalui berbagai instrumen investasi. Bank Indonesia (BI) langsung memasang alarm waspada atas aliran dana-dana asing ini. Demikian dikatakan oleh Gubernur BI Burhanuddin Abdullah usai rapat koordinasi menteri bidang ekonomi dengan Bank Indonesia, di Gedung BI, Jalan Thamrin, Jakarta, Rabu (19/9/2007) malam. "Sekarang juga sudah mulai kelihatan (dana asing) yang masuk pada sektor saham, SUN (Surat Utang Negara), karena itu kami melihat dalam 2-3 hari terakhir ada penguatan kembali nilai tukar rupiah," jelasnya. Melihat sudah kembalinya dana-dana asing ini, Burhanuddin mengatakan bahwa BI akan tetap mengawasi dana tersebut, sehingga jika ada pembalikkan arus dana (capital outflow) nilai tukar rupiah tidak kembali anjlok seperti beberapa saat lalu. "Policy yang ada, saya kira sudah didesain untuk itu. Saya kira volatilitas yang kami jaga selama ini adalah volatilitas yang memberikan kemungkinan kepada dunia usaha untuk tetap merencanakan usahanya sehingga antisipasinya memang sudah seperti itu," jelasnya. "Jadi BI tetap berada di pasar, kebijakan-kebijakan yang sifatnya antisipatif terhadap perbankan memang sudah in place," tambahnya.Sementara Deputi Gubernur Senior BI Miranda Goeltom mengatakan, penurunan suku bunga The Fed sebesar 50 bps belum sepenuhnya bisa menjadi pemicu bagi investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia. "Tapi itu bukan satu-satunya faktor bagi mereka untuk invest, mereka akan melihat dengan turunnya The Fed, dolar akan melemah tentu mereka akan mencari tempat untuk menempatkan dananya, jadi bukan hanya dari marjin saja, perbedaan nilai tukar rupiah juga pasti akan menguat," paparnya. Jadi selain selisih perbedaan suku bunga, Miranda mengatakan masih ada faktor lain yang akan menjadi pertimbangan para investor asing. "Bahwa ada penurunan The Fed itu sudah memberi ruangan untuk melakukan pelonggaran, tapi tidak berarti otomatis akan dilakukan pelonggaran karena masih ada faktor lain yang harus dilihat, misalkan saja walaupun The Fed turun tapi suku bunga di India, Cina dan lainnya suku bunganya naik karena kondisi lokalnya berbeda," jelasnya. Menurut Miranda, kondisi perekonomian Indonesia saat ini cukup berbeda, sehingga faktor inflasi menjadi faktor terpenting bagi BI untuk menentukan arah kebijakan moneternya. "Yang terpenting agar ekspektasi inflasi tidak bertambah tinggi sehingga kita tidak perlu khawatir tentang tekanan inflasi, kalau ekspektasi inflasi bisa dijaga, faktor musiman sudah selesai, keadaan global juga lebih pasti tentu penurunan The Fed akan memberi peluang bagi BI untuk turunkan suku bunga," jelasnya. (dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads