BI Rate Mungkin Berubah November
Selasa, 25 Sep 2007 14:12 WIB
Jakarta -
Bank Indonesia (BI) melihat inflasi September dan Oktober akan lebih tinggi karena faktor musiman puasa dan lebaran.BI memperkirakan inflasi akan kembali turun pada bulan November 2007 dan saat itu BI kemungkinan baru bisa mengambil keputusan soal BI Rate."Karena kita tahu September dan Oktober besar kemungkinan inflasinya agak lumayan tinggi dibandingkan tahun sebelumnya karena faktor musiman. Tapi hingga akhir tahun kita masih bisa melihat misalkan November dugaan kami, ekspektasi inflasi sudah rendah, kita akan mengambil keputusan sesuatu," kata Deputi Gubernur Senior BI, Miranda S Goeltom.Hal itu diungkapkan Miranda, dalam jumpa pers usai acara pertemuan pemerintah dengan beberapa unsur masyarakat diplomatik dan juga wakil masyarakat bisnis mengenai perkembangan iklim investasi, di Graha Sawala, Departemen Keuangan, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (25/9/2007). Namun ketika ditegaskan apakah BI Rate akan turun di bawah 8 persen pada November, Miranda mengaku belum tahu.Miranda juga melihat faktor finansial global saat ini masih belum terselesaikan pasca krisis subprime mortgage. Selain itu BI juga akan mencermati tingginya harga minyak yang menyentuh US$ 83 per barel, harga emas US$ 750 per ounce dan tembaga US$ 7.500 per ton. "Kita belum tahu selesainya seperti apa. Sementara ekonomi di AS masih banyak yang dipertanyakan apakan naik atau turun pertumbuhannya. Di Indonesia sendiri ada beberapa hal yang membuat kita itu resilience," kata Miranda.Maka itu BI akan tetap berhati-hati melihat kebijakan kedepan. Diakui Miranda, dengan penurunan Fed Fund 50 basis poin akan memperlebar selisih suku bunga di Indonesia. Akibatnya, setiap kali perbedaan suku bunga semakin lebar, akan membuat mata uang rupiah semakin menarik untuk dimiliki. "Tetapi kita tentu tahu, jika hanya dimiliki dalam jangka pendek, reversal-nya juga cepat terjadi. Oleh sebab itu, kami mengamati terus, perlu perbaikan investment climate sehingga berbagai investasi yang on pipeline itu bisa jalan," tutur Miranda. BI lanjut Miranda, melihat ada ruang ke depan untuk melakukan pelonggaran dari kebijakan moneter yang masih terbuka. "Kapannya itu masih belum ditentukan karena kita masih mengamati data-data lanjutan dan data terakhir baik dunia dan dalam negeri," beber Miranda.
(ir/qom)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































