Moody's Investors Service menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. Meskipun peringkat utang jangka panjang tetap pada level Baa2 atau satu tingkat di atas batas investment grade, namun revisi outlook ini dapat dilihat sebagai peringatan keras terhadap tata kelola pemerintahan saat ini.
Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, mengatakan Penurunan outlook Moody's dari stabil ke negatif dapat dilihat sebagai peringatan terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk segera berbenah diri. Sebab, meski mencatat pertumbuhan ekonomi 5,11% pada 2025, risiko kebijakan pemerintah saat ini diperkirakan berpotensi membuat hambatan pertumbuhan pada 2026.
"Salah satunya kebijakan sulit diprediksi, termasuk pengambil alihan 28 izin perusahaan ke Danantara yang dimaknai sebagai nasionalisasi aset swasta," kata Bhima kepada detikcom, Jumat (6/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Berbagai kebijakan yang dikomunikasikan secara prematur, termasuk rencana pelebaran defisit anggaran, menimbulkan kekhawatiran disiplin fiskal. Setiap ada wacana melakukan revisi UU Keuangan Negara 2003 dengan mengganti batas defisit 3% dari PDB, menimbulkan penolakan dari sisi investor," terangnya lagi.
Belum lagi menurutnya dari pengelolaan fiskal lain banyak disoroti lembaga asing, termasuk proyek MBG dengan anggaran jumbo tapi implementasi masih banyak catatan. Di saat yang bersamaan penerimaan pajak sedang turun disertai efisiensi anggaran yang berdampak ke daerah.
Untuk itu Bhima menegaskan pemangkasan outlook Moody's ini harus menjadi catatan perbaikan pemerintah ke depan. Terlebih mengingat pemangkasan outlook ini disampaikan lembaga itu tak lama setelah Goldman Sach dan UBS menurunkan peringkat bursa saham Garuda.
"Investor beri peringatan super keras ke pemerintah, setelah MSCI ada UBS dan Goldman Sachs kemudian Moodys yang lakukan evaluasi," tegas Bhima.
"Peringatan Moody's harus menjadi catatan perbaikan. Sebelumnya banyak ekonom sudah memperingatkan, mungkin sekarang lembaga pemeringkat yang ingatkan baru ada perubahan. Jangan sampai rating Moody's turun jadi Baa3, bisa naik tajam suku bunga utang dan beban berat ke rupiah," sambungnya.
Senada, Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal mengatakan penurunan outlook Moody's ini dikarenakan investor asing banyak melihat masalah dalam pemerintah saat ini. Mulai dari program andalan yang belum berjalan maksimal hingga risiko fiskal yang semakin besar.
"Jadi dibilang ada weakening governance, ada weaker policy communications yang kaitannya dengan koordinasi, kemudian predictability and coherence. Jadi artinya keselarasan dalam pengambilan kebijakan, lalu ada juga masalah risiko fiskal, lalu ada juga masalah ketidakpastian kaitannya dengan funding program-program andalan pemerintah, ada menyoroti Danantara, ada menyoroti masalah volatilitas di pasar keuangan, dan lain-lain," ucapnya.
Faisal berpendapat, berbagai aspek dalam ekonomi Indonesia yang menjadi catatan dalam laporan Moody's tersebut merupakan peringatan bagi pemerintahan untuk terus berbenah. Terlepas dari pertumbuhan ekonomi saat ini yang relatif cukup stabil.
"Sebetulnya banyak aspek dalam ekonomi kita itu yang merupakan satu hal catatan yang perlu menjadi warning bagi kita semua, terlepas dari kinerja makroekonomi, seperti pertumbuhan ekonomi yang relatif cukup stabil," terangnya.
"Jadi investor itu bukan hanya melihat dari pertumbuhan ekonomi, pasar domestik yang besar, tapi juga masalah-masalah kaitannya dengan governance, kejelasan dari kebijakan, bagus tidaknya koordinasi, ada tidaknya risiko fiskal, macam-macam. Nah ini yang juga harus diperbaiki berarti kan, kalau begitu," jelas Faisal.
(igo/fdl)










































