PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mencetak pertumbuhan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 3,5 triliun sepanjang tahun 2025. Angka tersebut naik 16,4% secara tahunan (yoy) dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, sebesar Rp 3 triliun.
Pertumbuhan ini ditopang pendapatan bunga yang naik 23% yoy menjadi Rp 36,33 triliun sepanjang 2025 dari Rp 29,55 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya. Kemudian beban bunga BTN tercatat sebesar Rp 17,91 triliun sepanjang tahun 2025.
Dengan demikian, BTN membukukan pendapatan bunga bersih sebesar Rp 18,42 triliun, naik 57,5% dari capaian di periode yang sama tahun 2024 sebesar Rp 11,7 triliun. Dari sisi kredit, BTN membukukan pertumbuhan sebesar 11,9% menjadi Rp 400,57 triliun sepanjang tahun 2025.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Alhamdulillah laba BTN juga bisa mencapai Rp 3,5 triliun di 2025. Kita tunggu 16,4% dibandingkan tahun sebelumnya," ungkap Wakil Direktur Utama (Wadirut) BTN, Oni Febriarto Rahardjo, dalam konferensi persnya di Menara BTN, Jakarta, Senin (9/2/2026).
Ia menjelaskan, mayoritas kredit BTN disalurkan ke sektor perumahan yang tumbuh 7,5% menjadi sebesar Rp 328,4 triliun sepanjang tahun 2025. Kemudian untuk kredit perumahan, BTN membukukan pertumbuhan KPR Subsidi sebesar 10% yoy menjadi Rp 191,18 triliun hingga akhir 2025.
Sedangkan KPR Non-Subsidi BTN meningkat 6,7% yoy menjadi Rp 113,04 triliun hingga akhir tahun lalu. Kemudian untuk Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat tumbuh 14,6% yoy menjadi Rp 437,39 triliun hingga akhir tahun 2025.
Pertumbuhan DPK ini sejalan dengan pertumbuhan pengguna Bale by BTN yang naik 66,1% yoy menjadi 3,7 juta hingga akhir 2025. Kemudian untuk jumlah transaksi Bale juga tumbuh 79,2% yoy menjadi 2,21 miliar per 31 Desember 2025.
Adapun nilai transaksi menembus Rp 103,6 triliun, naik 27,7% yoy. Hingga akhir 2025, saldo user Bale by BTN meningkat dengan kontribusi sebesar Rp 22,8 triliun terhadap DPK BTN hingga akhir 2025.
Terakhir, risiko kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross yang menurun ke level 3,1% dengan NPL Coverage menjadi 123,9% pada akhir 2025. Kemudian untuk rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) berada di level 20,9% per 31 Desember 2025.
"Jadi ini menunjukkan bahwa kita penuh kehati-hatian," pungkasnya.
(ahi/fdl)










































