Kredit RSH BTN di Bawah Target
Selasa, 09 Okt 2007 13:39 WIB
Jakarta - Hingga September 2007, pengucuran kredit untuk rumah sederhana sehat (RSH) Bank Tabungan Negara (BTN) baru mencapai 70.392 unit atau Rp 2,7 triliun dari target 110.000.Menurut Dirut BTN Kodradi, maksimal pencapaian kredit hingga akhir tahun hanya untuk 97.000 unit rumah.Hal tersebut disampaikan Dirut BTN Kodradi di sela-sela penandatangan fakta integritas di Gedung Pertamina, Jalan Perwira, Jakarta, Selasa (9/10/2007)."Mungkin tidak tercapai, tetapi realisasinya lebih besar dari tahun lalu. Tetapi semua kan tergantung pasar," ujarnya.Pada September 2006, BTN mengucurkan kredit RSH sebanyak 83.000 unit. "Kalau dibandingkan September 2007 dengan 2006, kurang lebih naiknya 14.000. 2006 itu sekitar 83.000 lebih," ujarnya.Sementara itu BTN sudah mengucurkan kredit (outstanding) sebesar Rp 19,5 triliun dari target Rp 22,06 triliun. BTN tahun depan akan meningkatkan kredit KPR-nya."(Outstanding) Rp 19,5 triliun dari target Rp 22,06 triliun. Tahun lalu Rp 18,086 triliun. Yang penting, meski untuk APBN 2007 untuk RSH, subsidi maksudnya, yang Rp 300 miliar sudah habis, saya sudah kirim pernyataan tertulis bahwa BTN akan jalan terus," tegasnya. BTN menargetkan capaian kredit kepemilikan rumah (KPR) pada tahun 2007 menjadi Rp 7, 8 triliun, atau meningkat sebesar Rp 2,1 triliun dari target KPR tahun 2006 sebesar Rp 5,7 triliun. Dengan jumlah KPR 110.000 unit. Tahun depannya lagi menurut Kodradi bisa meningkat menjadi Rp 10 triliun."Dari target 110.000, baru 70.000 unit. APBN bayar tahun depan enggak apa apa, tapi tentu cash flow saya berpengaruh. KPR harus jalan terus meski subsidi habis, karena ini untuk masyarakat. Dari Juli kesini yang belum diganti, angkanya saya lupa," ujarnya.Untuk mencari dana pembiayaan kredit, menurut Kodradi ada beberapa opsi, antara lain dari dana pihak ketiga, dan penerbitan obligasi."Jadi masih banyak jalan ke Roma. Saya pernah menerbitkan obligasi Rp 1,5 triliun. Sekarang ada Rp 3,5 triliun di perut saya. Jadi kalau dikeluarkan Rp 2-3 triliun saya rasa BTN masih bisa dipercaya orang," ujarnya.
(ddn/ir)











































