Suasana di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, siang ini terpantau sangat padat oleh para penumpang yang ingin pulang ke kampung halaman untuk merayakan libur Lebaran. Di tengah keramaian ini, ratusan pramuantar alias porter tampak sibuk berkeliling membawakan barang bawaan penumpang.
Menggunakan seragam kuning, para porter ini memanggul tas, koper, hingga kardus-kardus yang terikat kencang dengan tali rafia dan berbagai barang lainnya sembari menuntun penumpang menuju peron keberangkatan.
Salah seorang porter di Stasiun Pasar Senen, Khamid, mengatakan selama libur Lebaran jumlah penumpang yang naik turun di stasiun mengalami peningkatan yang sangat signifikan dibandingkan hari biasanya. Kondisi ini menjadi peluang tersendiri bagi para porter untuk menambah penghasilan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ramai sudah dari seminggu sebelum Lebaran lah, sampai malam takbir. Nanti paling kedatangan ramainya mulai H+3 lah ke sini," ucapnya saat ditemui detikcom di Stasiun Pasar Senen, Senin (17/3/2026).
Ia yang sudah menjadi porter di Stasiun Pasar Senen sejak 1999 mengaku bisa mengangkut barang hingga 15 kali dalam satu shift kerja dari pukul 07.00 WIB sampai pukul 19.00 WIB. Jumlah ini meningkat sekitar tiga kali lipat dari hari biasa yang rata-rata hanya mencapai lima kali.
"Dibanding hari-hari biasanya ada kenaikan bisa dua tiga kali lah. Sepuluh bisa lebih, ya sekitar 15 kali ada," tuturnya.
Karena kondisi yang sangat menguntungkan inilah ia menyebut rata-rata porter akan tetap bertugas selama libur Lebaran berlangsung. Sehingga tak sedikit di antara mereka harus rela tidak ikut merayakan Idul Fitri di kampung halaman, meski Khamid sendiri biasanya tetap memaksa untuk pulang meski hanya satu atau dua hari.
"Kalau saya biasanya tetap pulang pas malam takbir, soalnya anak istri maksa harus ada. Paling satu dua hari balik lagi, habis itu terima yang arus pulang kan, mulai H+3 itu ramai lagi yang pulang ke sini," ujar Khamid.
"Tapi ada juga yang nggak mudik, biasanya ada lah sekitar 40-an orang nggak mudik. Jadi stand by terus. Kalaupun ada yang mau pulang ya diundur, dua minggu setelah Lebaran biasanya baru pada pulang. Banyak juga yang nggak pulang sama sekali, paling nanti kapan hari baru pulang kalau ingin kan," sambungnya.
Sementara itu ada juga porter lain bernama Irwansyah. Ia merupakan salah satu porter yang biasanya tidak ikut pulang selama Hari Raya Idul Fitri. Bahkan menurutnya sudah tiga tahun ia tidak pulang ke kampung halaman, terlebih karena ia sudah menetap secara permanen di kawasan Bekasi.
"Ya itu semua tergantung keadaan ekonomi juga, persiapan kita gimana. Macam saya pribadi, nggak ada mudik sih tahun ini. Setelah punya rumah di Bekasi, sudah tiga tahun kurang lebih nggak pulang," kata Irwansyah.
Sama seperti Khamid, ia mengaku mendapat lonjakan jumlah penumpang yang meminta jasa angkutnya. Bahkan jika kondisi fisik memungkinkan, dirinya bisa mengangkut barang bawaan penumpang hingga 20 kali dalam satu shift kerja.
"Kalau hari biasa itu paling kita dapat lima kurang lebih, sudah bagus sekali ya. Jadi kalau momen seperti ini, arus mudik jelang Hari Raya Idul Fitri, asal tahan saja kita, 10-20 pun bisa lebih," terangnya.
Bahkan saat musim ramainya penumpang jelang Lebaran 2026 ini, Irwansyah malah cenderung kewalahan membantu para penumpang. Hingga akhirnya ia sedikit bergeser ke luar bangunan stasiun untuk beristirahat.
"Saya sebenarnya mau istirahat dulu nih, kepala saya pusing. Ruang di dalam sana tuh ramai. Nah, seperti ini saya mau rehat sebentar," tutur Irwansyah.











































