Di tengah populasi Muslim Indonesia yang mencapai lebih dari 240 juta orang, pangsa perbankan syariah hingga akhir 2025 masih berada di kisaran 7 sampai 8 persen dari total aset perbankan nasional. Temuan ini menjadi sorotan dalam laporan terbaru Ravenry bertajuk Sharia Banking in Indonesia 2025, yang menilai industri perbankan syariah terus tumbuh, tetapi belum menjangkau potensi pasarnya secara keseluruhan.
Dalam lima tahun terakhir, total aset perbankan syariah meningkat dari sekitar US$ 40,7 miliar pada 2020 menjadi sekitar US$ 64,9 miliar pada 2025, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 11,8 persen. Salah satu perubahan penting dalam periode ini adalah pembentukan Bank Syariah Indonesia pada 2021, yang kini diperkirakan menguasai sekitar 55 persen pangsa pasar bank syariah nasional.
Ravenry juga mencatat sekitar 54 juta orang, atau sekitar 22 persen populasi Muslim Indonesia, telah menjadi nasabah bank syariah. Namun, distribusinya masih belum merata. Sekitar 77% nasabah masih terkonsentrasi di Jawa, yang menunjukkan bahwa pertumbuhan industri ini masih sangat terpusat dan ruang ekspansi di luar wilayah ekonomi utama masih terbuka lebar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Laporan ini menyoroti bahwa pertumbuhan perbankan syariah ke depan tidak lagi cukup dibaca hanya dari sisi identitas atau preferensi keagamaan. Menurut Ravenry, pasar mulai bergerak ke arah kebutuhan yang lebih konkret, seperti pembiayaan UMKM, layanan untuk pelaku usaha, integrasi dengan ekosistem halal, hingga produk keuangan yang lebih relevan dengan kebutuhan sehari-hari.
Dari sisi model bisnis, industri perbankan syariah masih banyak ditopang oleh dua skema utama. Sekitar 49,9 persen pembiayaan berasal dari kontrak musyarakah dan sekitar 41,4% dari murabahah.
Bagi Ravenry, dominasi ini menunjukkan bahwa industri masih mengandalkan model pembiayaan yang relatif stabil dan lebih mudah dikelola secara operasional. Namun dalam jangka panjang, diversifikasi pendapatan tetap menjadi faktor penting untuk memperkuat keberlanjutan industri.
Digitalisasi juga dinilai akan menjadi salah satu pendorong pertumbuhan berikutnya. Dengan penetrasi digital Indonesia yang sudah mencapai sekitar 79,5% dari populasi, kanal digital membuka peluang besar bagi bank syariah untuk menjangkau nasabah baru dan meningkatkan efisiensi. Meski demikian, Ravenry menilai faktor kepercayaan, edukasi, dan kedekatan dengan masyarakat tetap penting, sehingga kombinasi layanan digital dan pendekatan komunitas diperkirakan akan semakin relevan ke depan.
"Pertumbuhan perbankan syariah ke depan tidak cukup hanya diukur dari kenaikan aset. Industri perlu hadir lebih dekat dengan kebutuhan nasabah, lewat penguatan literasi keuangan, edukasi produk syariah, inovasi layanan, dan distribusi yang menjangkau lebih banyak masyarakat," ujar Made Ayu Priyanka selaku Research Manager Ravenry.
Dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan sekitar 64 juta UMKM yang menyumbang sekitar 61 persen terhadap PDB nasional, Indonesia dinilai memiliki peluang kuat untuk memperbesar peran perbankan syariah dalam sistem keuangan nasional. Ravenry menyebut laporan ini sebagai awal dari percakapan yang lebih luas mengenai masa depan perbankan syariah di Indonesia, termasuk peluang diskusi lanjutan dengan pelaku industri, regulator, dan investor.
Laporan Sharia Banking in Indonesia 2025 menelaah perkembangan industri perbankan syariah di Indonesia, mulai dari tren pertumbuhan aset, segmentasi pasar, faktor pendorong pertumbuhan (key growth drivers) dan prospek masa depan, perubahan regulasi, analisis struktur biaya, transformasi digital, hingga pemetaan pemangku kepentingan ekosistem.











































