Bank Indonesia (BI) mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 4,67 miliar transaksi atau tumbuh 40,35% (yoy) pada Februari 2026 didukung oleh perluasan akseptasi pembayaran digital. Volume transaksi melalui aplikasi mobile dan internet masing-masing tumbuh sebesar 9,49% (yoy) dan 22,16% (yoy).
Angka ini termasuk transaksi QRIS yang terus tumbuh tinggi mencapai 133,20% (yoy). Kinerja positif tersebut didukung oleh peningkatan jumlah pengguna dan merchant.
Dari sisi infrastruktur, volume transaksi ritel yang diproses melalui BI-FAST mencapai 434 juta transaksi atau tumbuh 31,49% (yoy) dengan nilai transaksi mencapai Rp1.092 triliun pada Februari 2026.
Sementara itu, volume transaksi nilai besar yang diproses melalui BI-RTGS tercatat sebanyak 0,76 juta transaksi atau melambat 5,33% (yoy), di tengah nominal transaksi BI-RTGS yang tetap tumbuh 9,19% (yoy) mencapai Rp 16.105 triliun pada Februari 2026. Dari sisi pengelolaan uang Rupiah, Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) tumbuh 15,78% (yoy) menjadi Rp1.287 triliun pada Februari 2026.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satunya PT Bank Nationalnobu Tbk yang mencatat perkembangan layanan transaksi perbankan digital, agent banking, bancassurance dan administrasi kredit. Dalam pengembangan bisnis digital, Nobu Bank terus memperluas jaringan merchant QRIS yang hingga akhir tahun 2025 telah melampaui 2 juta merchant dan lebih dari 143 ribu agent banking yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia yang memperkuat posisi Perseroan sebagai Indonesia's leader in digital payment.
Dari sisi struktur portofolio kredit, Kredit Konsumer tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan dengan pertumbuhan 18,23% (yoy) dan mendominasi portofolio kredit Perseroan hingga 56,9% pada akhir tahun 2025. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh pemasaran produk KPR Primary, serta partisipasi aktif Nobu Bank dalam mendukung program perumahan Pemerintah.
Perseroan berpartisipasi dalam berbagai program strategis sektor perumahan, antara lain melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dan Kredit Program Perumahan (KUR Perumahan), yang merupakan skema pembiayaan dengan proses yang cepat, bunga yang kompetitif, serta akses yang luas bagi pengembang, kontraktor, supplier, serta industri pendukung sektor perumahan. Kinerja positif tersebut juga tercermin pada berbagai rasio keuangan Perseroan yang tetap berada pada level yang sehat.
Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat kuat pada level 22,29%, menunjukkan kapasitas permodalan yang sangat memadai untuk mendukung ekspansi bisnis ke depan. Sementara itu, Return on Assets (ROA) tercatat sebesar 1,67% dan Return on Equity (ROE) sebesar 13,07%, mencerminkan kemampuan Perseroan dalam mengoptimalkan aset dan modal untuk menghasilkan profitabilitas yang berkelanjutan.
Di sisi likuiditas, Loan to Deposit Ratio (LDR) berada pada level 83,68%, mencerminkan struktur pendanaan yang sehat dan ruang ekspansi kredit yang tetap terjaga. Ke depan, Nobu Bank akan terus memperkuat fokus pada pengembangan ekosistem pembayaran digital, perluasan jaringan merchant, serta pertumbuhan kredit yang berkualitas pada sektor-sektor yang memiliki potensi pertumbuhan yang kuat dan berkelanjutan. Dengan fondasi bisnis yang semakin solid, dukungan permodalan yang kuat, serta strategi pengembangan bisnis yang adaptif terhadap dinamika ekonomi dan digitalisasi layanan keuangan, Nobu Bank optimistis dapat terus menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi nasabah, mitra usaha, serta para pemegang saham.
Sepanjang FY2025, Perseroan membukukan Laba Bersih sebesar Rp481,3 miliar, meningkat 46,30% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Kinerja tersebut mencerminkan keberhasilan Perseroan dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi operasional, serta penguatan sumber pendapatan berbasis transaksi.
Sejalan dengan pertumbuhan tersebut, Total Aset Perseroan mencapai Rp41,2 triliun, meningkat 23,67% secara tahunan (yoy), yang menempatkan Nobu Bank di jajaran Top 25 bank swasta nasional saat ini. Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp28,9 triliun, tumbuh 18,76% (yoy), mencerminkan semakin meningkatnya kepercayaan nasabah terhadap layanan dan produk Perseroan.
Di sisi intermediasi, penyaluran kredit Perseroan mencapai Rp24,2 triliun, tumbuh 20,07% (yoy) dengan kontribusi utama berasal dari segmen konsumer khususnya Kredit Pemilikan Rumah (KPR), serta segmen UKM dan mikro.
Pertumbuhan tersebut tetap disertai dengan pengelolaan risiko yang prudent, sehingga kualitas kredit Perseroan tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) yang tetap rendah di 0,44% (Gross) dan dengan Rasio CKPN terhadap NPL sebesar 222%. Kinerja pendapatan berbasis fee based income juga menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan dengan berkontribusi 16,6% dari total pendapatan.
(kil/kil)










































