Trump Bidik Lagi Pembangkit Listrik Iran buat Dihancurkan

Trump Bidik Lagi Pembangkit Listrik Iran buat Dihancurkan

Anisa Indraini - detikFinance
Sabtu, 04 Apr 2026 06:25 WIB
Trump saat menyampaikan pidato kenegaraan di hadapan Kongres AS pada Selasa (24/2) waktu setempat (AP Photo/Matt Rourke)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump.Foto: AP Photo/Matt Rourke
Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran. Menurut Trump, agar ancaman itu tidak terjadi, pemerintahan Iran tahu apa yang harus dilakukan.

"Kepemimpinan rezim baru (Iran) tahu apa yang harus dilakukan, dan harus dilakukan, CEPAT!" kata Trump dalam unggahan di Truth Social dikutip dari CNBC, Jumat (3/4/2026).

Pernyataan Trump muncul setelah jembatan B1 yang baru dibangun di dekat Teheran dihancurkan AS dalam serangan udara. Menurut media pemerintah Iran, delapan orang tewas dan 95 lainnya terluka dalam serangan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam unggahannya, Trump tidak menjelaskan lebih lanjut apa yang perlu dilakukan Iran. Ia hanya mengatakan bahwa AS "bahkan belum mulai menghancurkan apa yang tersisa di Iran".

Beberapa jam kemudian, kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim melaporkan bahwa sebuah jet tempur F-35 AS telah ditembak jatuh di Iran Tengah. Foto puing-puing beredar di Telegram menunjukkan "Angkatan Udara AS di Eropa" pada bagian seperti ekor pesawat.

ADVERTISEMENT

Ancaman terbaru Trump datang sehari setelah pidatonya yang mengatakan militer AS akan menyerang Iran dengan sangat keras selama 2-3 minggu ke depan. Ia menambahkan bahwa AS akan "mengembalikan mereka ke zaman batu tempat mereka seharusnya berada".

Beberapa jam setelah itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menanggapi dengan nada menantang di X dan mengatakan bahwa "tidak ada minyak atau gas yang dipompa di Timur Tengah saat itu," merujuk pada pernyataan Trump tentang zaman batu.

"Apakah Presiden AS dan orang Amerika yang menempatkannya di kursi kepresidenan yakin bahwa mereka ingin memutar kembali waktu?" ujar Araghchi.

Sebagaimana diketahui, Iran secara efektif telah menutup lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz sejak AS dan Israel melakukan serangan pada 28 Februari 2026. Padahal jalur tersebut menjadi jalur pengiriman minyak global yang vital.

(aid/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads