Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) sepakat memperkuat kebijakan dan kerja sama untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan di tengah berbagai dinamika global. Terlebih dengan adanya konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel lawan Iran yang masih terus berlangsung.
Pembahasan itu turut mengemuka dalam pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral ASEAN (ASEAN Finance Ministers' and Central Bank Governors' Meeting/AFMGM) ke-13 pada Jumat (10/4). Pertemuan dihadiri oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Filianingsih Hendarta.
"Upaya tersebut tercermin dari ekonomi ASEAN yang tetap tangguh, didukung oleh permintaan domestik dan investasi yang terjaga, meski masih dihadapkan pada berbagai tekanan global seperti ketegangan geopolitik, volatilitas arus modal dan tantangan perubahan iklim," kata Filianingsih dalam keterangan tertulis, Senin (13/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada pertemuan AFMGM, para pemangku kebijakan kawasan menegaskan kesiapannya untuk mengambil langkah yang diperlukan serta memperkuat kerja sama dengan mitra strategis guna menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Sejalan dengan itu, disepakati sejumlah langkah strategis untuk meningkatkan efektivitas kerja sama keuangan regional melalui penguatan pasar keuangan, percepatan konektivitas sistem pembayaran lintas negara, serta peningkatan kesehatan finansial masyarakat.
Sebagai langkah konkret penguatan kerja sama, ASEAN telah menyusun Finance Sectoral Plan 2026-2030 sebagai acuan menuju ASEAN Community Vision 2045, serta menerapkan inisiatif Project Revive untuk memperbaiki tata kelola, struktur dan proses kerja sama sektor keuangan.
"Keberhasilan Project Revive sangat bergantung pada komitmen kuat seluruh anggota ASEAN, termasuk memastikan bahwa kerangka kerja sama yang baru mampu menjadi wadah yang efektif untuk membahas isu strategis seperti ekonomi makro, stabilitas sistem keuangan dan risiko kawasan," ujar Filianingsih.
Pertemuan itu juga menyepakati tiga Priority Economic Deliverables (PEDs) pada jalur keuangan dan bank sentral di bawah Keketuaan Filipina tahun 2026, yaitu penguatan pasar modal yang berkelanjutan dan tangguh, percepatan konektivitas pembayaran regional, serta penguatan financial health sebagai dimensi baru inklusi keuangan.
"Inisiatif ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif, memperluas akses keuangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan," ucap Filianingsih.
Dalam konteks integrasi keuangan, ASEAN mencatat berbagai capaian positif antara lain penyempurnaan ASEAN Banking Integration Framework (ABIF) melalui Guidelines 2.0, penguatan kerangka Capital Account Liberalisation (CAL), serta perluasan implementasi Local Currency Transaction (LCT).
ASEAN juga menyambut kesepakatan ASEAN Swap Arrangement (ASA) yang baru sebagai bagian dari penguatan jaring pengaman keuangan kawasan guna menjaga stabilitas ekonomi dan keuangan kawasan. Penguatan ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan eksternal, mendorong integrasi keuangan, dan mendukung kecukupan cadangan devisa untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.
Di sisi sistem pembayaran, konektivitas lintas batas terus meningkat dan berperan dalam mendorong inklusi keuangan, seiring penguatan kerja sama untuk menjaga keamanan sistem dari risiko fraud dan scam. Sementara itu pada agenda pembiayaan berkelanjutan, ASEAN mendorong mobilisasi pendanaan publik dan swasta, peningkatan akses pembiayaan iklim, serta penguatan kapasitas negara anggota dalam mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon.
(aid/fdl)










































