IMF Pangkas Proyeksi Ekonomi RI Jadi 5% di 2026

IMF Pangkas Proyeksi Ekonomi RI Jadi 5% di 2026

Anisa Indraini - detikFinance
Selasa, 21 Apr 2026 05:55 WIB
Hingga kuartal III 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 5,04%. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meyakini ekonomi di kuartal IV akan melonjak hingga di kisaran 5,7%.
Ilustrasi/Foto: Andhika Prasetia
Jakarta -

Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya berada di level 5% pada 2026. Angka itu lebih rendah dari perkiraan sebelumnya sebesar 5,1%.

Demikian tertuang dalam laporan World Economic Outlook (WEO) edisi April 2026. Pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dikarenakan turut terdampak oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengerek harga-harga komoditas termasuk energi.

"Perekonomian di seluruh dunia menghadapi dampak buruk melalui pengaruh langsung dari kenaikan harga komoditas," tulis laporan tersebut, dikutip Senin (20/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di kawasan Asia Tenggara, Vietnam diproyeksikan mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi yakni 7,1% pada 2026. Kemudian disusul Indonesia dan Malaysia yang diproyeksikan tumbuh 4,7%.

ADVERTISEMENT

Dalam skenario dasar (baseline), IMF mengasumsikan konflik berlangsung singkat dalam beberapa minggu ke depan, sebelum pemulihan bertahap terjadi hingga pertengahan 2026. Meski begitu, lembaga tersebut mengingatkan adanya risiko skenario yang lebih buruk apabila konflik berlangsung lebih lama dan semakin intens.

Dari sisi global, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia akan melambat menjadi 3,1% pada 2026, dari 3,4% pada 2025. Perlambatan ini terjadi di tengah kenaikan harga komoditas energi yang diperkirakan melonjak hingga 19% pada 2026.

Harga minyak bahkan diproyeksikan naik 21,4% akibat gangguan produksi dan distribusi di kawasan Timur Tengah, dengan rata-rata harga mencapai US$ 82 per barel. Kenaikan itu turut mendorong harga pangan seiring meningkatnya biaya energi, pupuk, serta terganggunya jalur logistik global.

Kondisi itu semakin memperburuk ketimpangan antarnegara. Negara berpendapatan rendah yang bergantung pada impor energi diperkirakan akan terdampak lebih berat akibat lonjakan harga dan pelemahan nilai tukar, sementara negara pengekspor energi cenderung lebih diuntungkan.

"Tanpa adanya perang, aktivitas ekonomi global sebenarnya berpotensi tetap berada di jalur stabil pada 2026, ditopang oleh ketahanan ekonomi di berbagai negara. Namun, konflik yang berlangsung saat ini menambah ketidakpastian dan menekan prospek pertumbuhan," imbuhnya.

(aid/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads