BI Tak Mau Ikuti The Fed
Selasa, 06 Nov 2007 15:12 WIB
Jakarta - Penurunan suku bunga AS atau Fed Fund Rate akhir Oktober lalu sebesar 0,25% menjadi 4,5% tidak serta merta bisa diikuti oleh Bank Indonesia (BI) dalam kebijakan suku bunga BI Rate.Deputi Gubernur Senior BI Miranda S Goeltom mengatakan, Indonesia dan AS memiliki situasi ekonomi yang berbeda. Misalkan untuk Indonesia kecenderungan orang meminjam uang untuk konsumsi. Sedangkan di AS kebanyakan meminjam uang untuk investasi."Sehingga atas perbedaan itu kita harus hati-hati, karena kita tidak bisa dengan mudah mengikuti suku bunga The Fed ketika dia turun kita ikut turun karena kondisi yang berbeda," kata Miranda.Hal itu diungkapkan Miranda, saat menjadi pembicara dalam seminar capital market development: What Does the Future Hold?, di Hotel Aryaduta, Jakarta, Selasa (6/11/2007).Namun untuk faktor eksternal ini, menurut Miranda, walaupun pertumbuhan ekonomi global melambat, namun sejumlah analis memprediksi jika AS sedang jatuh maka pertumbuhan ekonomi yang melambat ini bisa ditahan oleh China, India dan Rusia. Selain faktor eksternal, Miranda juga mengakui kebijakan BI Rate tetap lebih banyak memperhatikan kondisi dalam negeri. Miranda menjelaskan, walaupun perekonomian Indonesia sedang bagus pada triwulan ketiga 6,2%, namun BI tetap harus hati-hati karena inflasi domestik yang tinggi pasca lebaran dan kondisi eksternal dampak dari subprime mortgage masih belum stabil.BI juga belum bisa memprediksi tren inflasi kedepan setelah melihat inflasi domestik yang tinggi pasca lebaran. Karena biasanya setelah lebaran inflasi turun tapi pada Oktober kemarin tetap tinggi."Kita belum tahu apakah ini tren baru atau ini dampak dari kondisi eksternal. Oleh karena itu kita tetap mempertahankan BI Rate pada titik 8,25%," ujar Miranda.BI juga melihat pentingnya upaya mengembalikan kepercayaan diri dari pelaku ekonomi, baik domestik maupun asing untuk menciptakan iklim investasi yang prospektif dan terus bertahan dimasa depan."Karena kita belum tahu pertumbuhan ekonomi yang tinggi apakah akan bertahan seterusnya atau ini hanya fluktuasi pasar sementara saja," katanya.
(ir/qom)











































