Dolar AS Tembus Rp 17.700, BI: Rupiah Melemah 5,5%, Berbeda dengan 1998

Jogja Financial Festival 2026

Dolar AS Tembus Rp 17.700, BI: Rupiah Melemah 5,5%, Berbeda dengan 1998

Retno Ayuningrum - detikFinance
Jumat, 22 Mei 2026 15:10 WIB
Petugas melayani warga untuk menukar pecahan uang saat pelayanan penukaran uang di Gor Saparua, Bandung, Jawa Barat, Senin (23/2/2026). Bank Indonesia (BI) menyiapkan Rp8,6 triliun untuk layanan penukaran uang dengan nominal sebesar Rp5,3 juta per pa
Ilustrasi uang Rupiah. Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Jakarta -

Pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ini menjadi sorotan. Bank Indonesia (BI) menyampaikan awal tahun ini nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) berada di level Rp 16.680-an, tapi saat ini mata uang Garuda telah menyentuh Rp 17.700.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Aida S Budiman menyebut nilai tukar Rupiah telah melemah sekitar 5,5% sejak awal tahun. Kendati mengalami pelemahan, Aida menegaskan situasi hari ini berbeda dengan kondisi krisis moneter pada 1997-1998 silam.

"Apakah kita buruk-buruk amat dengan nilai tukar? Kita mestinya melihatnya, nilai tukar kita ini awal tahun sekitar Rp 16.680-an. Sekarang itu Rp 17.700-an. Memang levelnya kelihatan Rp 17.700-an, tapi kalau dilihat sebetulnya pelemahannya itu 5,5 persenan," ujar Aida dalam Jogja Financial Festival 2026, Jumat (22/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia membandingkan dengan tahun 1998 dengan tahun ini, kala itu Rupiah terjun bebas dalam waktu singkat. Namun, Aida memastikan BI tidak mau diam saja melihat pelemahan 5,5% ini.

ADVERTISEMENT

"Berbeda dengan tahun 1997-1998. Tahun 1997-1998 itu kita mulai dari Rp 2.300-an tiba-tiba ke Rp 17.000-an. Jadi dengan waktu yang sangat tiba-tiba dan mendadak, sehingga itulah yang dijaga oleh Bank Indonesia. Bukan levelnya, tapi stabilitasnya," tutur Aida.

Pihaknya telah membuat sejumlah kebijakan. Salah satunya, intervensi valas BI dalam jumlah besar di pasar domestik dan pasar luar negeri. Selain itu, BI memastikan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder berjalan baik demi menjaga likuiditas dan menstabilkan harga SBN agar tidak bergejolak.

"Kemudian, kita juga melakukan pembatasan untuk pembelian Dolar di pasar domestik, kalau tidak punya underlying. Kalau ada underlying-nya, boleh-boleh saja," imbuh Aida.

Aida menjelaskan pada prinsipnya, pergerakan nilai tukar mata uang sama seperti barang dagangan pada umumnya, yaitu sangat bergantung pada hukum permintaan dan penawaran. Secara makroekonomi, salah satu persoalannya dari transaksi berjalan Indonesia yang mencatat rapor merah alias defisit.

"Kita berdagang dengan negara lain, karena itu nanti ditangkap dalam yang disebut dengan transaksi berjalan. Transaksi berjalan kita tuh yang warna merah. Warna merah artinya defisit. Defisit artinya kita net-nya mengalami kebanyakan bayarnya daripada menerimanya. Nah ini yang menjadi permasalahan," tambah Aida.

Tak hanya itu, Aida menyebut transaksi modal saat ini juga sedang mengalami penurunan. Alhasil, pihaknya harus mencari cara agar kembali menarik arus modal asing masuk ke dalam negeri, agar bisa memenuhi kewajiban pembayaran ke luar negeri.

"Jadi kita memang harus menarik bagaimana arus modal asing tadi masuk ke dalam Indonesia sehingga kita bisa melakukan pemenuhan dari kebutuhan yang kita harus membayar ke luar negeri," jelas Aida.

(rea/hal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads