Surat Berharga Negara Jadi Sumber Pembiayaan Utama APBN
Kamis, 08 Nov 2007 14:19 WIB
Jakarta - Sumber pembiayaan APBN pada tahun-tahun mendatang akan sangat tergantung pada penerbitan Surat Berharga Negara (SBN). Sementara pembiayaan melalui utang dari luar negeri akan semakin turun.Hal tersebut disampaikan Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto dalam seminar prospek dan peluang investasi SBN di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (8/11/2007)."Ketergantungan APBN terhadap surat berhaga yang diterbitkan pemerintah semakin terlihat sejak 2005, yang sebesar Rp 22,6 triliun, di tahun 2006 sebesar 36 triliun, proyeksi 2007 Rp 58,5 triliun dan pada 2008 diharapkan Rp 91,6 triliun," ujarnyaDengan semakin berkembangnya surat berharga yang diterbitkan pemerintah ketergantungan APBN pada utang luar negeri otomatis mengalami penurunan.Rahmat memproyeksikan pada akhir tahun 2007 ini akan terjadi penurunan penggunaan utang luar negeri menjadi 0,3 persen terhadap PDB. Pada 2008 diharapkan turun lagi menjadi 0,4 persen PDB."SBN adalah the best choice untuk dijadikan instrumen moneter suatu negara karena itu terjadi di berbagai negara, dan palng banyak omsetnya dalam keuangan negara, sehingga jadi paling cocok untuk menjadi instrumen moneter," ujarnya.Penerbitan SBN merupakan strategi pengelolaan utang yang efektif karena dengan SBN pemerintah bia mengurangi volatilitas eksternal dengan tetap menjaga kemampuan membayar utang."Dari tahun ke tahun, rasio utang kita terhadap PDB terus turun sejak tahun 2000 yang masih 88 persen hingga tahun lalu 39 persen. Proyeksi 2007 sebesar 35 persen dan 2008 menjadi 33 persen," ujarnya.Pemerintah sejauh ini sudah menerbitkan berbagai macam SBN, mulai dari Surat Utang Negara, Surat Perbendaharaan Negara, Zero Coupon Bond, dan obligasi internasional.Untuk Surat Berharga Syariah Negara atau Sukuk, rancangan undang-undangnya masih dibahas di DPR. RUU ini ditargetkan dalam selesai dibahas pada tahun 2008.
(ddn/qom)










































