Tiba-tiba Naikkan Suku Bunga, Gubernur BI: Pelemahan Rupiah Melebihi Proyeksi

Tiba-tiba Naikkan Suku Bunga, Gubernur BI: Pelemahan Rupiah Melebihi Proyeksi

Anisa Indraini - detikFinance
Selasa, 09 Jun 2026 15:22 WIB
Konferensi Pers KSSK II 2026 digelar di kantor Otoritas Jasa Keuangan, Jakarta, Kamis (7/5/2026). Kegiatan ini dihadiri Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi,
Foto: Muhammad Firman/detikFoto
Jakarta -

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan alasan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50%. Kenaikan tersebut dilakukan secara tiba-tiba di luar Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan.

Perry mengatakan alasan menaikkan BI Rate secara tiba-tiba dilatarbelakangi oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang semakin dalam. Pelemahan rupiah diakui melebihi proyeksi BI.

"Dalam berbagai evaluasi hari ini kita melihat, lho kok pelemahan rupiah melebihi yang kita proyeksikan dulu," ucap Perry usai menghadiri rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI, Selasa (9/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan keputusan itu, BI berharap nilai tukar rupiah bisa stabil bahkan menguat. Selain itu, kenaikan BI Rate diharapkan bisa menarik investasi asing, mengingat belakangan terjadi arus modal keluar (outflow) dari investor asing.

ADVERTISEMENT

"Kenaikan BI Rate ini untuk menarik masuknya investasi portfolio asing karena sejak April-Mei itu SBN-SRBI outflow sehingga kita perlu menaikkan BI Rate agar rupiahnya menguat, stabil dan inflasinya dan inflasinya tahun depan tetap dalam sasaran," tutur Perry.

Dalam keterangan resmi dinyatakan, sesuai Undang-undang dan praktik yang berjalan selama ini, BI setiap hari Selasa mengadakan RDG Mingguan untuk evaluasi pelaksanaan bauran kebijakan yang ditetapkan dalam RDG Bulanan.

Perry menjelaskan hasil evaluasi BI sejak RDG Bulanan pada 19-20 Mei 2026 menunjukkan nilai tukar rupiah bergerak lebih lemah dari perkiraan. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global, tingginya permintaan valuta asing di dalam negeri, serta keluarnya aliran investasi portofolio asing dari pasar keuangan domestik.

"BI memandang perlu menempuh langkah lanjutan guna memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dengan meningkatkan imbal hasil dan sejumlah insentif lain untuk mendorong masuknya aliran investasi asing," kata Perry.

Saksikan Live DetikSore:

Lihat juga Video: BI Tahan Suku Bunga 4,75% untuk Jaga Rupiah

(aid/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads