Gubernur BI Yakin Rupiah Tak Lama di Rp 18.000, Bisa Menguat ke Rp 16.800

Gubernur BI Yakin Rupiah Tak Lama di Rp 18.000, Bisa Menguat ke Rp 16.800

Anisa Indraini - detikFinance
Selasa, 09 Jun 2026 15:48 WIB
Suasana rapat kerja Gubernur Bank Indonesia (BI) bersama Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (22/9/2025). BI menyatakan siap menanggung sebagian beban bunga untuk sejumlah program strategis pemerintah khususnya yang berkaitan d
Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) memperkirakan nilai tukar rupiah pada 2027 akan berada di kisaran Rp 16.800 hingga Rp 17.500/US$. Perkiraan itu lebih kuat dibandingkan posisi rupiah saat ini yang berada di level Rp 18.000/US$.

"Mengenai nilai tukar, kami memandang 2027 nilai tukar akan menguat. Rupiah kisarannya sama dengan pemerintah Rp 16.800 sampai Rp 17.500," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI, Selasa (9/6/2026).

Menurut Perry, ada lima faktor yang mendasari rupiah menguat di 2027. Pertama, kondisi ekonomi global tahun depan diperkirakan tidak akan seburuk tahun ini sehingga mendorong aliran modal asing masuk (inflow) ke negara emerging market termasuk Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tentu saja kondisi ekonomi tidak akan seburuk tahun ini. Pertumbuhan ekonomi dunia itu akan naik ke 3,1%. Tentu saja kondisi-kondisi yang sekarang geopolitik kita harapkan akan meredam dan harapannya akan mendorong inflow ke negara emerging market termasuk Indonesia," jelas Perry.

Kedua, fundamental ekonomi Indonesia yang diklaim dalam keadaan kuat akan mendukung penguatan nilai tukar rupiah.

ADVERTISEMENT

"Pertumbuhan ekonomi tinggi, inflasinya rendah, defisit transaksi berjalan juga rendah, imbal hasilnya menarik, kemudian cadangan devisa juga lebih dari cukup. Jadi fundamental kita akan mendukung penguatan nilai tukar," ucap Perry.

Ketiga, kehadiran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) selaku Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ekspor dinilai akan mendukung penguatan nilai tukar rupiah. Hal itu sejalan dengan adanya peningkatan ekspor, devisa hasil ekspor dan penerimaan negara.

"Sehingga ini akan mendukung tidak hanya pembiayaan bagi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mendukung kenaikan cadangan devisa dan penguatan nilai tukar rupiah," beber Perry.

Keempat, BI berkomitmen untuk terus menjaga nilai tukar rupiah baik melalui intervensi maupun berbagai kebijakan lain. Kelima, berkoordinasi erat antara kebijakan moneter BI dengan kebijakan fiskal pemerintah.

"Jadi lima faktor itu rupiah insya Allah tahun depan akan menguat kisarannya Rp 16.800-17.500," pungkas Perry.

Tonton juga video "Rupiah dan IHSG Terus Melemah, Ekonom Ungkap Alasannya"

(aid/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads