Bank Dunia (World Bank) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat menjadi 5% pada tahun ini, lebih rendah dari target pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Perlambatan terjadi seiring dengan tekanan eksternal yang membebani investasi dan ekspor.
Hal itu tertuang dalam laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026. Meski demikian, ekonomi Indonesia diperkirakan kembali menguat ke level 5,2% pada periode 2027-2028 seiring perbaikan kondisi global dan keberhasilan pelaksanaan reformasi struktural.
"Pertumbuhan PDB diproyeksikan akan melambat menjadi 5% di tahun 2026, seiring dengan tekanan eksternal yang membebani investasi dan ekspor," tulis laporan tersebut, dikutip Kamis (11/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Konsumsi rumah tangga pada 2026 diperkirakan tetap tumbuh sekitar 5% didukung berbagai stimulus fiskal dan konsumsi pemerintah diperkirakan meningkat signifikan hingga 8,7%. Meski menjadi penyangga pertumbuhan jangka pendek, Bank Dunia mengingatkan ketergantungan terhadap belanja pemerintah memiliki risiko tersendiri.
"Ketergantungan mempersempit ruang fiskal. Dalam skenario ini, pertumbuhan PDB dapat menurun sebesar 0,2-0,3 poin persentase di tahun 2027-2028. Di tingkat domestik, implementasi reformasi struktural yang tidak memadai akan meningkatkan kerentanan pasar tenaga kerja, menghambat penciptaan lapangan kerja bagi kelas menengah dan menambah tekanan terhadap konsumsi rumah tangga," kata Bank Dunia.
Lembaga tersebut memperkirakan konflik di Timur Tengah masih akan berlangsung sepanjang 2026 sehingga prospek pertumbuhan ekonomi global melemah dan mengurangi permintaan ekspor Indonesia. Gangguan terhadap pasokan minyak dunia dan rantai logistik global membuat harga minyak mentah Brent diproyeksikan bertahan di kisaran US$ 94 per barel atau sekitar US$ 24 lebih tinggi dibanding asumsi harga minyak dalam APBN 2026.
Selain itu, kondisi keuangan global diperkirakan tetap ketat dengan imbal hasil obligasi yang tinggi serta premi risiko yang rentan meningkat apabila terjadi guncangan baru di pasar keuangan internasional. Di sisi lain, permintaan global diproyeksikan melemah pada 2026 sebelum berangsur pulih pada 2027 hingga 2028.
Bank Dunia menilai prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah sangat bergantung pada keberhasilan implementasi reformasi struktural. Pemulihan ekonomi menuju level 5,2% pada 2027-2028 diperkirakan akan ditopang oleh membaiknya pasar komoditas, pertumbuhan kredit swasta yang lebih kuat, percepatan investasi melalui Danantara, serta agenda deregulasi dan penghilangan hambatan usaha yang tengah dijalankan pemerintah.
Meski demikian, Bank Dunia mengingatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini masih banyak didorong stimulus dari sisi permintaan, termasuk belanja pemerintah dan berbagai program fiskal. Tanpa reformasi yang mampu meningkatkan produktivitas, dorongan tersebut hanya akan memberikan efek sementara dan tidak cukup untuk meningkatkan kapasitas pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.
"Proyeksi pemulihan menuju 5,2% pada periode 2027-2028 bergantung pada keberhasilan reformasi," katanya.
Tonton juga video "TanyadetikFinance Kenapa Pelemahan Rupiah dan IHSG Tak Kunjung Berhenti?"
(aid/fdl)










































