Presiden Prabowo Subianto mendadak mengumpulkan para petinggi bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di hari yang sama saat Bank Indonesia mengumumkan kenaikan suku bunga acuan atau BI Rates, tepatnya pada Kamis (18/6/2026) kemarin.
Pertemuan tersebut lengkap dihadiri langsung oleh para petinggi bank BUMN, mulai dari jajaran direksi hingga komisaris. Dari pantauan detikcom, sejumlah petinggi bank berdatangan di Istana Kepresidenan, Jakarta, sejak pukul 14.00 WIB. Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Hery Gunardi, Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Riduan, hingga Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Nixon LP. Napitupulu nampak hadir di Istana siang itu.
Sementara sejumlah komisaris bank pelat merah juga terlihat turut menghadiri pertemuan tersebut. Di antaranya seperti Komisaris Utama BRI Kartika Wirjoatmodjo, Komisaris Independen BNI Didik J Rachbini, Komisaris PT Bank Mandiri Tbk Yuliot Tanjung, hingga Komisaris BNI Febrio Nathan Kacaribu. Pertemuan diperkirakan dimulai sekitar pukul 15.00 WIB di Istana Merdeka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertemuan tersebut juga dihadiri langsung oleh Chief Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagara Nusantara (Danantara) Rosan Roeslani dan Chief Investment Officer (CIO) BPI Danantara Pandu Sjahrir, hingga Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
Di tempat berbeda pada waktu yang sama BI sedang melaksanakan pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan Juni 2026. Hasil rapat yang diumumkan adalah memutuskan untuk menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75%. Sejalan dengan keputusan tersebut, BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,75%, dan suku bunga Lending Facility naik menjadi 6,50%.
CIO BPI Danantara Pandu Patria Sjahrir sempat ditanya mengapa pertemuan bos-bos Bank BUMN dilakukan bersamaan dengan pengumuman suku bunga acuan BI. Dia mengatakan pertemuan petinggi bank BUMN dengan Presiden sudah dijadwalkan sejak lama, tidak ada kesengajaan untuk membuat pertemuan tersebut dilakukan bersamaan dengan pengumuman BI Rate.
"Kalau bersamaan nggak dong, ini sudah dijadwalkan," ujar Pandu ketika tiba di Istana Kepresidenan.
Singkat cerita, usai pertemuan berlangsung selama sekitar 4 jam lebih, CEO BPI Danantara Rosan Roeslani mengungkapkan para bos-bos BUMN mendapatkan arahan langsung dari Prabowo. Yang paling utama adalah Prabowo meminta bank BUMN menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.
Pasalnya, kata Rosan, kapitalisasi pasar gabungan seluruh bank Himbara yakni Mandiri, BRI, BNI, BSI, dan BTN dapat mencapai sekitar Rp 1.100 triliun. Dia menilai bahwa angka tersebut mencerminkan sekitar 10% nilai seluruh perusahaan nasional.
"Perbankan juga diminta tidak semata-mata hanya mengejar laba, tetapi juga harus dirasakan kehadirannya ke masyarakat, ke rakyat, dalam bentuk pemberian persamaan kesempatan dari segala lapisan, dari UMKM, komersial, maupun korporasi," ujar Rosan.
Selain itu, bank BUMN juga diminta lebih banyak mengambil peran strategis dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional dan berbagai program pemerintah. Oleh sebab itu, bank BUMN juga diminta harus memegang asas kehati-hatian dan profesionalitas dalam menjalankan bisnis.
Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan khusus kepada jajaran direksi dan komisaris bank-bank pelat merah di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Kamis (18/6/2026). Foto: Cahyo - Biro Pers, Media, Informasi, Sekretariat Presiden |
Tak Perlu Tahan Bunga Kredit
Di tengah kenaikan suku bunga acuan dari Bank Indonesia, Himbara dan Danantara kompak mengatakan Prabowo tidak memberikan arahan khusus untuk menahan bunga kredit.
Rosan mengatakan meskipun ada kenaikan BI Rate, yang diperlukan bank adalah meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Hal ini guna meningkatkan kinerja yang saat ini sebenarnya sudah cukup solid. Dia menjelaskan pertumbuhan kredit perbankan sepanjang periode 2025-2026 mencapai rata-rata 15%, sementara likuiditas yang tercermin dari dana pihak ketiga (DPK) juga masih tumbuh dua digit.
Selain itu, kualitas kredit perbankan dinilai tetap terjaga. Rosan menyebut rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) bank-bank Himbara saat ini berada di kisaran 0,9% hingga 1,8%.
"Nah justru hal-hal itu yang mesti diperbaiki, yang mesti ditingkatkan efisiensinya sehingga walaupun ada kenaikan suku bunga tetapi lending-nya ke masyarakat, kepada dunia usaha terutama UMKM itu tetap bisa terjaga di level yang baik, di level yang sama," jelas Rosan.
"Tidak ada, tidak ada. Tidak ada ya," ujarnya ketika kembali ditanya soal adakah arahan khusus ke bank BUMN untuk menahan suku bunga kredit.
Sementara itu, Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, mengaku tak menerima arahan khusus Prabowo untuk menahan suku bunga menyusul kenaikan BI-Rate. Dia mengatakan, perbankan masih mencermati perkembangan pasar sebelum memutuskan kebijakan suku bunga kredit. Menurutnya, menaikkan bunga kredit akan bergantung pada upaya bank mendapatkan dana dari masyarakat.
Riduan menegaskan, Bank Mandiri mendukung pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut juga menjadi kehendak dan pesan yang disampaikan Prabowo dalam pertemuannya bersama jajaran pengurus Himbara.
"Saya tidak mendapatkan arahan itu. Kita pokoknya tetap akan mendukung pertumbuhan ekonomi. Semua melihat ekonomi ke depan untuk lebih baik lagi," ujar Riduan usai pertemuan.
Namun begitu, Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Airlangga Hartarto yang hadir dalam pertemuan yang sama justru meminta agar bank BUMN tidak buru-buru menaikkan bunga kredit. Mengingat kenaikan BI Rate berpotensi mendorong kenaikan bunga kredit.
"Ya ini relay-nya kan ada transmisi terkait kenaikan bunga kredit. Diharapkan tentu Himbara tidak terlalu cepat juga untuk menaikkan," ujar Airlangga usai pertemuan.
Airlangga menambahkan, pemerintah berharap penyaluran kredit tetap berjalan guna mendukung aktivitas ekonomi dan dunia usaha. "Ya tentu harapannya kan ke depan kredit tetap jalan," sambungnya.
(ahi/hal)











































