Hal tersebut disampaikan Kabag Penelitian BTN Sasmaya Tuhulele dalam acara Business Talk bertajuk "Mencari Format Kebijakan Pemerintah dalam Pembiayaan Perumahan Rakyat", di Hotel Yasmin, Cipanas, Sabtu (17/11/2007).
Rencana merger BTN sebelumnya diutarakan terkait kebijakan Single Presence Policy (SPP) yang ditargetkan Bank Indonesia pada 2010.
"Kalau merger dengan BRI, BNI atau Mandiri, itu akan menurunkan survival rate BTN dalam melaksanakan fokus kita yang bergerak di sektor perumahan rakyat. Penurunannya bisa mencapai dibawah 50%.," jelasnya.
Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Negara Perumahan Rakyat, Iskandar Sale menambahkan, Survival rate BTN justru akan bertahan di angka 78% jika tetap dipertahankan stand alone, sebagai bank fokus.
Ditambahkannya, sestrukturisasi perbankan nasional dengan kebijakan merger yang kurang tepat sasaran justru bisa menghambat program perumahan rakyat yang sedang dilaksanakan oleh pemeritah.
"Selama ini kan BTN masih mendominasi pelaksanaan program tersebut." kata Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Negara Perumahan Rakyat, Iskandar Saleh.
Sentralisasi struktural yang akan terjadi jika dilakukan merger, akan menghambat kemudahan masyarakat dalam memperoleh kredit perumahan, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
"Sebenarnya Indonesia membutuhkan bank yang fokus pada program perumahan rakyat. Dan BTN sesungguhnya sudah melakukan itu." kata Iskandar.
Sasmaya menambahkan, jika memang harus dilakukan merger, BTN lebih cocok dimerger dengan bank yang memiliki perilaku sejenis.
"Masih ada 29 bank kok yang lebih cocok dikawinkan dengan BTN," kata Sasmaya tanpa merinci 29 bank tersebut.
Dijelaskannya, kebutuhan bank fokus saat ini masih sangat dibutuhkan oleh Indonesia.
"Contohnya, restrukturisasi perbankan yang terjadi pasca krisis 1997, hasil merger antara Bapindo dan Bank Exim, ternyata malah menghambat core bidang bank-bank tersebut. Sekarang malah akhirnya didirikan bank baru, yaitu Bank Expor Indonesia," kata Sasmaya.
Menanggapi hal tersebut, Sasmaya menekankan, kebutuhan adanya bank fokus tidak terhindarkan.
"Oleh karena itu, daripada merger, BTN lebih memilih dibentuk Operational Holding Company bagi 4 bank BUMN tadi, agar masing-masing bank bisa tetap bergerak di core bidangnya sendiri," pungkas Sasmaya. (dro/qom)











































