Hal ini dikatakan oleh Direktur Direktorat Penelitian dan Pengawasan Perbankan BI, Halim Alamsyah, dalam diskusi kajian stabilitas keuangan dengan tema 'Dampak Gejolak Eksternal terhadap Stabilitas Keuangan Domestik' di gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin (19/11/2007).
"Beberapa pemicu gejolaknya, kecenderungan peningkatan harga minyak dunia, masih berlebihnya likuiditas dunia yang mendorong peningkatan arus modal berjangka pendek serta adanya ketidakseimbangan global," tutur Halim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Laporan yang diungkapkan Halim ini mengacu pada hasil kajian Bank Indonesia selama semester I-2007. Dikatakan bahwa untuk memperkecil peluang terjadinya instabilitas dan tingginya risiko yang dihadapi oleh sektor keuangan Indonesia maka langkah langkah yang dilakukan adalah memperkuat manajemen risiko perbankan.
Kemudian memperkuat infrastruktur keuangan, meningkatkan efektifitas pemantauan serta financial deepening.
Peningkatan financial deepening sangat diperlukan untuk mengurangi ketergantungan pada bank. Sehingga akan mendorong kemajuan kegiatan usaha keuangan non bank, memperbanyak alternatif instrumen keuangan serta meningkatkan akses masyarakat miskin dan terbelakang terhadap produk dan jasa keuangan.
Dalam hasil kajian BI itu dikatakan, kedepan faktor eksternal yang selalu dipantau karena berpotensi mempengaruhi ketahanan sistem keuangan Indonesia antara lain adalah pertumbuhan dunia yang melambat. Sementara dari sisi internal diperlukan kewaspadaan terhadap dampak persiapan menjalanka pemilu terhadap aktifitas bisnis, dan perkembangan risiko pada sektor keuangan.
"Terutama karena kondisi keamanan yang tidak kondusif dimana dapat memicu capital outflow menjelang pemilu tersebut," katanya. (ir/qom)











































