BI Belajar BPR Sampai ke Hungaria

BI Belajar BPR Sampai ke Hungaria

- detikFinance
Rabu, 05 Des 2007 09:51 WIB
Budapest - Bank Indonesia (BI) mengirim tim ke Hungaria untuk mempelajari regulasi dan juga peningkatan kapasitas serta pengawasan Bank Perkreditan Rakyat (BPR).

Delegasi BI yang dipimpin oleh Deputi Gubernur BI Budi Rochadi berada di Hungaria mulai 23-29 November 2007. Acara tersebut merupakan bagian dari rangkaian kunjungan tim tersebut ke Eropa, yang dikhususkan untuk belajar soal BPR.

Menurut Fajar Nuradi, Sekretaris Kedua Ekonomi KBRI Budapest dalam siaran persnya, Rabu (5/12/2007), kunjungan tersebut merupakan salah satu program kerja BI mengenai upaya meningkatkan pelayanan sektor keuangan mikro berskala kecil di daerah-daerah dalam rangka memajukan sektor UKM dan peningkatan kesejahteraan rakyat.

Program kerja tersebut merupakan hasil kerjasama Pemerintah Indonesia cq. Bank Indonesia dengan German Technical Cooperation (GTZ), salah satu bentuk bantuan teknis pemerintah Jerman kepada Indonesia dalam bidang peningkatan pelayanan publik.

Dalam pertemuan tersebut CEO Bank of Hungarian Savings Cooperative (BHSC) Peter Csicsaky menyatakan kesiapannya untuk memberikan kemudahan-kemudahan akses finansial berupa pinjaman atau kredit kepada para pelaku dunia usaha.

Selain dengan BHSC, Tim BI juga melakukan beberapa diskusi dengan sejumlah pihak seperti Bank Sentral Hungaria (MNB), Federasi Nasional Bank Koperasi Hungaria (OTSz), Federasi Nasional Pengawasan Bank Koperasi Hungaria (OTIVA), Otoritas Pengawasan Finansial Hungaria (PSzAF) dan beberapa Bank Koperasi yang beroperasi di daerah-daerah.

Dalam pertemuan dengan seluruh Tim BI, Dubes Sihombing menyampaikan harapannya bahwa melalui studi banding tim BI di Jerman dan Hungaria yang notabene merupakan dua negara yang memiliki dunia perbankan dan UKM yang maju dan berkembang pesat, kedepannya dapat segera tercipta iklim perbankan yang lebih kondusif dan bersahabat bagi sektor UKM di Indonesia.

"Hal tersebut mengingat persaingan dunia usaha di pasar internasional sudah semakin ketat yang menuntut peningkatan kualitas produksi dan pelayanan permintaan pasar yang cepat dan reliable, untuk itu Indonesia harus bekerja keras mengejar ketertinggalannya," tambah tambah Dubes Sihombing.

(qom/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads