Destry Sebut Nilai Tukar Rupiah Lawan Dolar AS Harusnya Tak Serendah Sekarang

Destry Sebut Nilai Tukar Rupiah Lawan Dolar AS Harusnya Tak Serendah Sekarang

Andi Hidayat - detikFinance
Rabu, 26 Agu 2026 14:51 WIB
Komisi XI DPR RI menggelar uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) terhadap Destry Damayanti sebagai calon Gubernur BI di Ruang Rapat Komisi XI DPR, Jakarta, Rabu (26/8/2026). Uji kepatutan yang dimulai pada pukul 11.00 WIB tersebut dipimpi
Foto: Andhika Prasetia/DetikFoto
Jakarta -

Calon Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti bicara soal rupiah yang seharusnya bisa lebih rendah dari posisi saat ini. Menurutnya, pelemahan rupiah yang terjadi disebabkan oleh sentimen jangka pendek dari ketidakpastian global.

Adapun berdasarkan data Bloomberg, diketahui nilai tukar rupiah berada pada level Rp 17.725, melemah tipis 0,01% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pukul 13.50 WIB.

"Kalau kita lihat pergerakan dari rupiah itu sendiri, sebenarnya kalau ngelihat dari faktor fundamental, kemudian termasuk juga apa yang terjadi di Amerika, di global dengan ketidakpastian yang tinggi, itu nilai rupiah kita sebenarnya bisa lebih rendah dari sekarang," ungkap Destry dalam Fit and Proper Test Calon Gubernur BI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (26/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain karena ketidakpastian global, Destry menyebut pelemahan rupiah karena adanya sentimen dari pasar global. Akumulasi dua sentimen tersebut yang menyebabkan turunnya nilai tukar rupiah.

ADVERTISEMENT

"Masalahnya ada sentimen, market sentimen itu mungkin bisa timbulnya macam-macam, termasuk global sentimen. Ini berkumpul jadi satu, sehingga ini yang menyebabkan pergerakan rupiah itu menjadi seperti sekarang ini," terangnya.

Padahal secara fundamental jangka panjang, Destry menyebut ekonomi Indonesia masih sangat stabil. Saat ini, BI juga masih melakukan sejumlah intervensi terhadap pasar keuangan di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menjaga nilai tukar rupiah.

Salah satu pekerjaan rumah (PR) yang akan dilakukan Destry ke depan adalah memperkuat posisi neraca perdagangan Indonesia yang mengalami defisit. Langkah ini menjadi upaya menjaga fundamental ekonomi nasional sekaligus stabilitas nilai tukar rupiah.

"Kita punya tantangan sektor eksternal, sektor eksternal kita yaitu terkait dengan bagaimana dari neraca di balance of payment kita. Jadi menjadi PR tentunya bagi kita semua, pemerintah, Bank Indonesia dan juga semua masyarakat kita adalah bagaimana agar ekspor kita bisa kita tingkatkan, kemudian jasa," pungkasnya.

Tonton juga video "Kenapa Pelemahan Rupiah dan IHSG Tak Kunjung Berhenti?"

(acd/acd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads