Asing Guyur US$ 11 Miliar, Cadev RI Naik Jadi US$ 146 Miliar

Asing Guyur US$ 11 Miliar, Cadev RI Naik Jadi US$ 146 Miliar

Heri Purnomo - detikFinance
Kamis, 03 Sep 2026 12:45 WIB
Seorang petugas menata uang dollar di Jakarta, Senin (30/6/2014). Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat terhadap rupiah sehingga mendorong minat masyarakat untuk berburu mata uang negeri Paman Sam ini.
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti melaporkan bahwa posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia pada akhir Agustus 2026 sebesar US$ 146 miliar. Angka ini naik tipis dibandingkan dengan posisi akhir Juli 2026 sebesar US$ 145,3 miliar.

Destry mengatakan posisi cadev tersebut turut ditopang oleh masuknya aliran dana asing ke instrumen portofolio, terutama Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Hal ini terjadi seiring adanya penyesuaian harga atau repricing pada kedua instrumen tersebut.

"Cadev kita posisi akhir Agustus kemarin US$ 146 miliar. Ya kita beruntung masih ada. Kalau kita lihat dana portfolio dengan adanya repricing. Jadi adjustment harga yang dilakukan termasuk SBN, yield-nya melakukan penyesuaian, SRBI juga melakukan penyesuaian, sehingga kita melihat ada inflow masuk cukup besar khususnya masih di dua instrumen ini SBN dan SRBI," ujar Destry di acara Sarasehan 100 Ekonom di Jakarta, Kamis (3/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Destry menyebut total aliran dana asing yang masuk ke dua instrumen itu sekitar US$ 10-11 miliar secara year to date (ytd).

Meski begitu, ia menyampaikan saat ini masih ada pekerjaan rumah dalam mendorong dana asing masuk ke pasar modal Indonesia. Di satu sisi, ia tetap optimistis dengan pasar modal Indonesia. Destry mengatakan pasar saham Indonesia saat ini banyak ditopang oleh investor domestik, termasuk ritel.

ADVERTISEMENT

Di sisi lain, ia menyampaikan pihaknya juga terus memperkuat transaksi menggunakan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT). Destry mengatakan tren transaksi LCT terus meningkat, terutama dalam hubungan ekonomi Indonesia dengan China dan Jepang.

"Nah yang juga kita keluarkan belakangan ini adalah kita ingin menarik asing dan kita memberikan mereka insentif dalam bentuk pengurangan untuk hedging costnya dan kalau kita lihat sekarang asing ini banyak masuk ke Indonesia. Kemudian ada yang dia jual dolarnya, kemudian dapat Rupiah, dia belilah instrument tapi masih portfolio. Karena biasa kalau dalam suatu ekonomi pada saat dia untuk menarik inflow pertama pasti masuknya ke portfolio. Once mereka udah makin yakin dia mulai masuk ke sektor riilnya," terang Destry.

"Nah sekarang itu yang kami lakukan hedging cost kita turunkan tanpa kita mengurangi BI rate kita ubah, tanpa juga kita menaikkan SRBI, tapi kita memberikan hedging cost," sambungnya.

Lihat juga Video: PT Freeport Hingga ANTAM Raih Anugerah Program Bisnis Terpuji

(hrp/fdl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads