OJK Buka-bukaan Kondisi Keuangan RI di Tengah Perang Iran dan Selat Hormuz

OJK Buka-bukaan Kondisi Keuangan RI di Tengah Perang Iran dan Selat Hormuz

Heri Purnomo - detikFinance
Senin, 07 Sep 2026 15:22 WIB
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Frederica Widyasari Dewi
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Frederica Widyasari Dewi / Foto: Gilang Faturahman/detikFoto
Jakarta -

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan kondisi sektor jasa keuangan masih tetap terjaga. Hal ini berdasarkan pada Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) bulan Agustus 2026 kemarin.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Frederica Widyasari Dewi, memaparkan londisi jasa keuangan yang tetap terjaga tersebut didukung oleh pertumbuhan intermediasi yang dinilai masih kuat di tengah berbagai tekanan ekonomi global.

"Stabilitas sektor jasa keuangan terjaga dengan pertumbuhan intermediasi yang kuat," ujarnya dalam konferensi pers RDKB Agustus secara online, Senin (7/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski begitu, OJK menilai masih ada berbagai risiko global yang berpotensi memengaruhi perekonomian dan sektor keuangan. Salah satunya adalah risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah yang masih tinggi seiring berlarutnya konflik di Iran dan masih tertutupnya Selat Hormuz.

Kondisi gangguan jalur distribusi energi tersebut menyebabkan volatilitas harga minyak dan komoditas, sehingga tekanan inflasi global tetap tinggi.

ADVERTISEMENT

Tekanan inflasi juga diperberat oleh adanya El Nino yang berkepanjangan dan berdampak pada kekeringan serta kebakaran hutan di berbagai kawasan. Kemudian momentum pertumbuhan ekonomi global cenderung termoderasi. Hal ini tercermin dari mayoritas negara yang mencatatkan perlambatan pertumbuhan pada triwulan II 2026.

Di Amerika Serikat, pertumbuhan ekonomi pun turun dan berada di bawah ekspektasi, disertai pasar tenaga kerja yang termoderasi dan inflasi yang tetap tinggi meski dalam tren yang menurun. Sementara di China, pertumbuhan PDB triwulan II 2026 melambat menjadi 4,3% year-on-year, dengan data terkini mengindikasikan pelemahan yang masih berlanjut baik pada sektor produksi maupun permintaan domestik.

"Di sisi domestik, pertumbuhan ekonomi triwulan II 2026 tercatat tetap kuat dengan tumbuh sebesar 5,29% year-on-year, didukung investasi dan belanja pemerintah. Konsumsi rumah tangga yang kuat juga masih menjadi penopang utama pertumbuhan. Inflasi Agustus 2026 tercatat sebesar 3,19% year-on-year, dan aktivitas manufaktur berada pada zona kontraksi di level PMI 49,8," katanya.

"Di sisi kebijakan, kami terus melanjutkan dan memperkuat implementasi agenda reformasi pasar modal Indonesia. Di antaranya melalui peningkatan tata kelola bursa melalui pengaturan demutualisasi dalam rancangan POJK tentang pemegang saham bursa efek, serta penyempurnaan kerangka enforcement di sektor pasar modal," sambungnya.

(hrp/fdl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads