"Kalau masalah penambahan saham Temasek di BII mereka sudah lapor, tapi untuk rencana merger belum ada yang masuk," kata Direktur Direktorat Perizinan dan Informasi Perbankan BI Yang Ahmad Rizal.
Hal itu diungkapkan Yang dalam sosialisasi pengaturan Bank Indonesia tentang Sistem Informasi Debitor kepada direksi perusahaan pembiayaan di Gedung BI, Jalan Thamrin, Jakarta, Rabu (12/12/2007).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau mereka sudah mengajukan secara resmi itu nanti ke saya perizinannya," tukas Yang.
Temasek Holding sudah melaporkan ke Bank Indonesia soal penambahan sahamnya di Konsorsium Sorak. Konsorsium ini menguasai 56,24% saham di BII.
Semula kepemilikan saham Temasek di konsorsium Sorak 50,02% tapi kini menjadi 75%. Temasek membeli saham milik anggota konsorsium lain yakni ICB Finansial Group Holding Malaysia 20% dan Barclays 4,98 persen.
Sehingga pemilik saham Konsorsium Sorak tinggal Temasek 75% dan Kookmin asal Korea Selatan 25%.
Hal yang sama menurut Yang, juga belum ada pemberitahuan resmi rencana merger dari pemilik Bank Lippo dan Bank Niaga yang juga masih terafiliasi. "Itu belum belum," cetus Yang.
Sebelumnya Khazanah Nasional Bhd dan Bumiputra Commerce Holdings Bhd yang masing-masing memiliki saham di PT Bank Lippo Tbk dan PT Bank Niaga Tbk mengatakan akan mengumumkan soal kepemilikan mereka di dua bank itu pada Desember ini.
Khazanah melalui Santubong Investment BV memiliki 86,52% saham Bank Lippo. Khazanah merupakan pemegang saham utama Bumiputra Commerce Holdings Bhd. Sedangkan Bumiputra Commerce Holdings Bhd memiliki 62% saham di Bank Niaga. (ir/arn)











































