RI Dorong Pemakaian Mata Uang Lokal di BRICS buat Hadapi Ketidakpastian Global

RI Dorong Pemakaian Mata Uang Lokal di BRICS buat Hadapi Ketidakpastian Global

Retno Ayuningrum - detikFinance
Minggu, 13 Sep 2026 18:00 WIB
Destry Damayanti resmi dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2026-2031. Prosesi pelantikan berlangsung di Mahkamah Agung (MA), Jakarta Pusat, Rabu (2/9/2026).
Foto: Andhika Prasetia/DetikFoto
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi (Local Currency Transaction/LCT) dan peningkatan konektivitas pembayaran lintas negara bagi anggota negara BRICS di tengah ketidakpastian global. Hal tersebut disampaikan dalam pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral BRICS (2nd BRICS Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting/BRICS FMCBG) pada 9-10 September 2026 di Mumbai, India.

Delegasi Indonesia dihadiri oleh Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti dan Wakil Menteri Keuangan Juda Agung. Pertemuan ini mencakup para pemimpin bank sentral dan kementerian keuangan negara anggota BRICS, yaitu Indonesia, Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, Mesir, UEA, Ethiopia, dan Iran.

Destry mengatakan pentingnya menjaga stabilitas sekaligus memperkuat sumber pertumbuhan untuk menghadapi ketegangan geopolitik dan fragmentasi ekonomi. BI mendorong penguatan kerja sama konkret BRICS, antara lain melalui penggunaan mata uang lokal dalam transaksi dan konektivitas pembayaran lintas negara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Indonesia melihat peluang strategi bagi BRICS untuk mengubah berbagai tantangan menjadi ketahanan bersama melalui penguatan kerja sama konkret. Termasuk transaksi mata uang lokal dan konektivitas pembayaran lintas negara, dengan tetap memperhatikan tahapan pembangunan dan prioritas nasional masing-masing negara," ujar Destry dalam keterangannya, Minggu (13/9/2026).

ADVERTISEMENT

Pada pertemuan tersebut, negara-negara anggota BRICS menyepakati komitmen untuk memperkuat kerja sama ekonomi dan keuangan serta meningkatkan ketahanan dalam menghadapi tantangan global. Kesepakatan ini dirumuskan pasca pembahasan sejumlah isu strategi terkait penguatan ketahanan dan pertumbuhan, transformasi digital dan AI, konektivitas pembayaran lintas negara, penggunaan mata uang lokal, ketahanan siber, serta keuangan berkelanjutan.

BRICS juga menekankan pentingnya penguatan arsitektur keuangan global, antara lain melalui reformasi tata kelola IMF untuk memperkuat suara dan representasi negara berkembang. Sejalan dengan kesepakatan tersebut, tekanan Indonesia menjadikan keberagaman karakteristik negara anggota sebagai kekuatan untuk membangun kerja sama yang saling melengkapi dan menghasilkan nilai bersama.

Sebagai bagian dari rangkaian pertemuan di Mumbai, Destry melakukan pertemuan bilateral dengan Gubernur Reserve Bank of India (RBI), Sanjay Malhotra. Pertemuan membahas percepatan kerjasama Local Currency Transaction (LCT) Indonesia-India, Local Currency Bilateral Swap Arrangement (LCBSA), serta konektivitas pembayaran melalui QR antarnegara. Kerja sama ini menjadi salah satu langkah untuk menerjemahkan komitmen BRICS ke dalam konektivitas ekonomi dan keuangan yang memberikan manfaat bagi kedua negara.

Pertemuan BRICS FMCBG Kedua menyepakati Pernyataan Bersama yang merefleksikan komitmen bersama dalam menghadapi tantangan ekonomi global. Ke depan, Indonesia memandang penting untuk menjaga ruang dialog dan membangun jembatan di tengah fragmentasi global.

Melalui sinergi Bank Indonesia dan Pemerintah, Indonesia akan terus berkontribusi dalam agenda kerja sama internasional untuk menghasilkan langkah-langkah konkret yang inklusif dan sejalan dengan prioritas nasional, guna mendukung ketahanan ekonomi dan keuangan Indonesia.

(acd/acd)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads