×
Ad

Trump Tuntut The Fed Turunkan Suku Bunga Jadi 1% atau Kurang: Segera!

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Kamis, 17 Sep 2026 14:21 WIB
Donald Trump / Foto: REUTERS/Jonathan Ernst
Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menuntut bank sentral Paman Sam, Federal Reserve (The Fed) untuk segera memangkas suku bunga menjadi 1% atau kurang. Komentar tersebut muncul hanya beberapa jam usai the fed mengumumkan kenaikan suku bunga pertamanya sejak 2023.

"Kita 'mendukung' hampir setiap negara di dunia, dan itu tidak bisa terus berlanjut," tulis Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social setelah pengumuman kenaikan suku bunga The Fed seperti dikutip dari CNBC, Kamis (17/9/2026).

"TURUNKAN SUKU BUNGA UNTUK AMERIKA SERIKAT, DAN SEGERA!" tulisnya penuh tekanan lagi.

Lebih lanjut, Trump tanpa henti menekan The Fed yang kini dipimpin oleh Kevin Warsh untuk menurunkan suku bunga agar biaya pinjaman turun drastis. Ia bersikeras dalam unggahannya bahwa suku bunga di AS seharusnya hanya 1% atau bahkan kurang.

"(Suku bunga) seharusnya 1%, atau kurang, karena kita adalah negara dengan peringkat kredit terbaik di dunia - JAUH LEBIH BAIK," tegas Trump.

Di luar itu, Trump terus mengklaim bahwa perekonomian AS sedang berkembang pesat berkat banyaknya investasi baru yang masuk. Ia berulang kali mengklaim bahwa AS telah meraup sebanyak US$ 20 triliun atau lebih selama masa jabatan keduanya, meski kemudian dikoreksi oleh Gedung Putih jadi lebih dari US$ 11 triliun.

"Jika kita berhenti berdagang dengan setiap negara yang memiliki defisit dengan kita, yang sebagian besar memang demikian, kita akan menghasilkan setidaknya 1,5 triliun dolar per tahun," klaim Trump dalam unggahan hari Rabu (16/9) waktu setempat.

Sebelumnya, kurang dari dua minggu lalu, Trump sempat mengancam jika The Fed tidak memangkas suku bunga segera, dia akan menghentikan perdagangan dengan negara-negara yang memiliki surplus perdagangan dengan AS. Kelompok itu mencakup sebagian besar mitra dagang utama AS, bersama dengan puluhan negara lainnya.

Ancaman ekstrem itu semakin memperparah kampanye tekanan Trump selama bertahun-tahun terhadap The Fed, yang sempat mereda setelah Warsh menggantikan Jerome Powell sebagai ketua bank sentral tersebut.

Namun, sejauh ini Trump dan para pembantunya menahan diri untuk tidak menyerang Warsh secara langsung. Juru bicara Gedung Putih, Kush Desai, mengatakan kepada Fox News pada Rabu siang bahwa Trump 'benar-benar' masih percaya pada independensi The Fed.

"Namun itu tidak mengubah fakta bahwa presiden Amerika Serikat memiliki hak Amendemen Pertama untuk berbicara ketika terjadi kesalahan," tambah Desai.

Simak juga Video 'AS Luncurkan Game Bertema Perburuan Migran, Seru atau Minim Empati?':




(igo/fdl)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork