Kredit modal kerja tersebut diperuntukkan bagi para petambak udang yang berada dibawah naungan CP PRIMA yang sekaligus berperan sebagai penjamin kredit kepada para petambak plasma (avalis) tersebut.
Penandatanganan kesepakatan dilaksanakan oleh BRI dan CP Prima dengan disaksikan oleh petambak plasma, Jumat (14/12/2007).
Langkah revitalisasi segera dilakukan guna membangkitkan kinerja perusahaan, agar secara maksimal dapat segera menjalankan fungsinya sebagai mitra kerja para petambak udang melalui sistem plasma.
Dengan adanya fasilitas pinjaman dari BRI, diharapkan proses budidaya udang para petambak plasma yang sebelumnya tidak menentu dan sering tersendat karena masalah permodalan kini dapat teratasi.
Keberhasilan itu juga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan serta taraf hidup para petambak plasma yang berjumlah lebih dari 11.000 orang di Komering Ilir, Rawajitu Timur dan Desa Adi Warna-Kabupaten Tulang Bawang dengan sekitar 20.000 hektar lahan tambak.
Melalui penandatanganan Nota Kesepahaman ini, BRI akan menyalurkan Kredit Modal Kerja dan Kredit Investasi untuk usaha budidaya udang kepada 7.664 petambak udang di Komering Ilir dan Kecamatan Rawajitu Timur, Kabupaten Tulang Bawang, Propinsi Lampung.
Ketua Umum Gabungan Perusahaan Perikanan Indonesia (GAPPINDO), Herwindo berharap penandatanganan kesepakatan antara BRI dan CP Prima ini akan memberikan kontribusi yang besar bagi ekspor perikanan di Indonesia. Selama ini, kata Herwindo, hasil tangkapan nelayan turun drastis sejak adanya kenaikan harga BBM dan pembatasan izin.
"Dengan mulai beroperasinya kawasan tambak di Komering Ilir dan Rawajitu Timur, Kabupaten Tulang Bawang, pemerintah harus memberikan jaminan kepada semua investor disektor budidaya udang bahwa tidak ada udang impor yang masuk ke wilayah Indonesia," jelas Herwindo. (qom/ir)











































