×
Ad

BI Ungkap Kondisi Ekonomi RI di Era Suku Bunga Tinggi  

Andi Hidayat - detikFinance
Rabu, 23 Sep 2026 17:48 WIB
Foto: Rifkianto Nugroho/detikFoto
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) menilai ekonomi domestik masih memiliki ruang untuk tumbuh di tengah kondisi suku bunga tinggi. Suku bunga tinggi ini dipicu meningkatnya tensi geopolitik yang mendorong kenaikan inflasi di sejumlah negara.

Sejumlah bank sentral, seperti Federal Reserve (The Fed), European Central Bank (ECB) dan Bank of Japan (BOJ), mulai menaikkan suku bunga. Langkah tersebut dilakukan seiring dengan meningkatnya inflasi di masing-masing negara.

"FFR sudah mulai naik, tidak sajaFFR, kemarin jugaECB sudah menaikkan,BOJ juga sudah menaikkan, artinya sudah terjadi dampak dari harga-harga komoditas tersebut kepada inflasi. Dan kalau dari sisi PDB-

nya, kami melihat ini masih terus membuat PDB global itu tidak bergerak sekitar 3 persenan di 2026," ungkap Deputi Gubernur Senior BI, Aida S Budiman, dalam pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur bulan September di Gedung BI, Jakarta, Rabu (23/9/2026).

Namun jika tensi geopolitik mereda, Aida menilai pertumbuhan ekonomi global dapat kembali naik di atas 3% pada tahun 2027. Menurutnya, penurunan ketegangan geopolitik akan memberikan ruang bagi aktivitas ekonomi global untuk kembali tumbuh lebih tinggi.

"Mudah-mudahan nanti di 2027 kalau asumsinya seperti kami lihat bahwa akan terjadi penurunan dari geopolitical tension-nya, ini akan bisa lebih tinggi daripada 3%," jelasnya.

Meski demikian, Aida menilai masih terdapat ruang bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah tekanan imbas geopolitik. Salah satunya dari kenaikan harga komoditas ekspor nonmigas.

Sejumlah komoditas seperti minyak sawit mentah atau CPO, batu bara, hingga nikel mengalami kenaikan harga. Kondisi tersebut memberikan dampak positif terhadap kinerja ekspor Indonesia.

"Kita memang kalau dari price komoditas tadi yang jalur trade tadi, ada dua dampak, ada yang memang mengakibatkan pay oil, mengakibatkan kita menaikkan harga import daripada migas kita, tapi juga untuk harga-harga yang non oilnya, kita bisa mendapatkan benefit karena harga komoditas seperti CPO, kemudian coal, berbagai macam jenis-jenis komoditas seperti nikel dan lain-lain itu mengalami peningkatan," terangnya.

Aida menambahkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bisa menyentuh mencapai 5,61% pada kuartal I-2026 dan 5,29% pada kuartal II-2026. BI sendiri memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kisaran 4,9%-5,7% hingga akhir tahun 2026.

Sementara dari sisi inflasi, Aida menyebut kondisi Indonesia juga masih relatif terjaga yakni pada level 3,19% pada Agustus 2026. Dampak kenaikan nilai tukar dan harga komoditas, menurutnya, memang mulai terlihat pada inflasi inti, volatile food, maupun administered prices. Namun, inflasi inti masih berada di level 2,92%.

"Artinya kita masih punya ruang yang cukup baik dalam menjaga dampak dari global tadi ke inflasi dan kemudian masih dalam target inflasi kita. Proyeksi yang kami lihat ini semuanya masih di bawah 3,5% dan bahkan masih sekitar 3%. Jadi inflasinya masih baik," pungkasnya.




(acd/acd)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork