Demikian disampaikan Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah dalam jumpa pers di Gedung BI, Jalan Thamrin, Jakarta, Selasa (8/1/2008).
Burhanuddin menjelaskan, kinerja perbankan mengalami perbaikan dengan pelaksanaan fungsi intermediasi yang meningkat dan stabilitas sistem keuangan yang tetap terjaga.
Β
"Aset perbankan nasional pada November 2007 mencapai Rp 1.895 triliun atau naik 11,9 persen year to date dengan nilai kredit mencapai Rp 1.004,6 triliun atau tumbuh 20,6 persen year to date," jelasnya.
Β
Hingga November 2007, kredit perbankan tumbuh Rp 23,5 triliun sehingga secara tahunan kredit telah tumbuh sebesar 24,3 persen (yoy).
Β
"Pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dari pertumbuhan DPK selama 2007 telah berhasil menaikkan LDR perbankan mencapai 69,9 persen yang merupakan level tertinggi sejak krisis," tuturnya.
Β
Meskipun kredit meningkat cukup tinggi, Burhanuddin menambahkan, perbankan nasional tetap dapat mengelola risiko kredit dengan baik.
Β
"Hal ini terlihat dari menurunnya NPL gross dari 6,98 persen menjadi 5,41 persen dan NPL net dari 3,63 persen menjadi 2,29 persen," paparnya.
Β
Ia menjelaskan, penurunan BI rate sebesar 150 basis poin sepanjang 2007 direspons positif oleh pelaku pasar dan disambut baik dunia usaha.
Β
"Hingga November 2007, tren penurunan suku bunga pinjaman masih terus berlanjut, di November rata-rata suku bungan kredit modal kerja dan investasi sebesar 13,16 persen dan 13,19 persen, lebih rendah dibanding akhir 2006 yang sebesar 15,07 persen dan 15,1 persen," katanya.
Β
Sementara untuk suku bunga kredit konsumsi periode yang sama mencatatkan penurunan juga menjadi 16,39 persen dibandingkan 17,58 persen di akhir 2006.
(dnl/qom)











































