Demikian disampaikan oleh Dirjen Pengelolaan Utang Departemen Keuangan Rahmat Waluyanto dalam pesan singkatnya kepada detikFinance, Jumat (11/1/2008).
"Hal ini menunjukkan kepercayaan investor institusi AS terhadap kredibilitas pemerintah Indonesia dalam mengelola perekonomian dalam jangka panjang," jelasnya.
Pemerintah menerbitkan obligasi global sebesar US$ 2 miliar dalam 2 tranches yaitu Indo-18 yang jatuh tempo pada 18 Januari 2018 dengan yield 6,95 persen dan Indo-38 yang jatuh tempo 18 Januari 2038 dengan yield 7,74 persen.
"Tanggal 10 Januari 2008 waktu New York Pemerintah RI telah menerbitkan obligasi Negara valuta asing dengan 2 tranches tersebut yang masing-masing tranches bernilai US$ 1 miliar," ungkap Rahmat.
Untuk jenis investor 61 persen merupakan asset managers, 17 persen bank dan 22 persen asuransi dan lembaga keuangan lainnya
Ia menjelaskan, transaksi penerbitan obligasi global pada 10 Januari 2008 waktu New York itu dilakukan di tengah situasi pasar global yang sulit antara lain akibat krisis subprime mortgage, melemahnya nilai tukar US$ serta tingginya harga minyak dunia.
"Ini merupakan transaksi obligasi negara terbesar oleh pemerintah Indonesia selama ini dan terbesar di Asia sejak tahun 1998," kata Rahmat.
Sebelum penerbitan obligasi itu, digelar roadshow yang dipimpin oleh Menteri Keuangan diikuti oleh pejabat Departemen Keuangan dan pejabat Bank Indonesia. Roadshow dilakukan di Singapura, Hongkong, London, Los Angeles, Boston dan New York. (dnl/qom)











































