Peluang Asuransi Sepeda Motor Capai 10 Juta

Peluang Asuransi Sepeda Motor Capai 10 Juta

- detikFinance
Rabu, 16 Jan 2008 10:02 WIB
Jakarta - Kebanyakan orang setelah menyelesaikan kredit sepeda motornya tidak lantas memperpanjang asuransi yang dimilikinya. Berdasarkan perhitungan Adira Insurance, peluang pasar di segmen tersebut ada sekitar 10 juta motor.

"Rata-rata orang ambil kredit itu kan 2-3 tahun. Setelah kredit selesai, rata-rata tidak memperpanjang asuransinya. Jumlahnya kira-kira ada 10 juta sepeda motor. Itu peluang pasar yang bagus," jelas Chief Finance Officer Adira Insurance, Hafid Hadeli, saat dihubungi detikFinance, Rabu (16/1/2008).

Saat ini, ia melanjutkan, dari total pembeli sepeda motor, sekitar 90% menggunakan kredit, sementara sisanya membayar tunai. Jadi jika pada tahun 2007, penjualan sepeda motor sekitar 5 juta unit, maka pembeli tunainya ada sekitar 500 ribu unit.

"Jumlah 500 ribu itu, juga peluang pasar yang bagus untuk direct insurance. Biasanya kan orang yang beli cash itu belum dapat asuransi, yang dapat asuransi itu yang belinya kredit," ujar Hafid.

Asuransi yang langsung didapat sekaligus dengan kredit, biasanya merupakan hasil kerjasama antara perusahaan asuransi dengan distributor sepeda motor.

"Jadi peluang direct insurance, atau asuransi yang langsung ditawarkan per individu ada sekitar 500 ribu, ditambah orang-orang yang tidak memperpanjang kreditnya, total sekitar 10 juta sepeda motor," tutur Hafid.

Sementara itu, Adira Insurance yang beberapa waktu lalu meluncurkan produk direct insurance bernama Motopro, menargetkan mampu menguasai pangsa pasar sebanyak 1 juta unit pada akhir 2008.

"Itu target optimis kita," ujar Hafid.

Pada tahun 2007, Adira Insurance membukukan GWP sebesar Rp 577 milliar, dengan profit sekitar Rp 115-120 milliar. Masing-masing tumbuh 18% dan 25% dari tahun 2006.

Untuk tahun 2008, Adira Insurance menargetkan pertumbuhan GWP dan profit sebesar 20-25%.

"Dana yang disiapkan Adira untuk tahun 2008 ini sekitar Rp 730 milliar. Komposisinya 30% pada deposito, 40% di obligasi dan 30% sisanya di reksadana," jelas Hafid. (dro/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads