Keprihatinan atas lambannya reformasi ADB telah membuat Inggris menarik komitmennya untuk memberikan donor lagi. Financial Times (FT) menyebut penarikan donasi itu berhubungan dengan kurang signifikannya kemajuan dalam agenda reformasi ADB.
Seorang pejabat senior AS yang dikutip oleh Financial Times bahkan menyebutkan, Washington akan mengambil sebagian usaha swasta dan publik untuk menunjukkan kekecewaan atas ADB yang dinilainya tak berkelas dunia.
AS dan Jepang merupakan kontributor keuangan utama ADB. Namun Depkeu Jepang secara tradisional memiliki bagian yang paling besar untuk jabatan utama, termasuk penunjukan presiden ADB.
"Kritikan itu berhubungan dengan catatan pergantian staf di ADB," tulis Financial Times, seperti dilansir dari AFP, Kamis (17/1/2008).
FT juga menuliskan, ADB dikritik oleh lembaga multilateral lain setelah Presiden ADB Haruhiko Kuroda menolak sejumlah rekomendasi dari Dewan Komite untuk memperluas hal-hal yang akan menjadi bahan evaluasi.
"Kanada dan beberapa pemegang saham Eropa juga mempertanyakan proses penunjukan di ADB. Namun Kuroda menolak kritikan itu dengan menyatakan bahwa independensi dari evaluasi harus terus bisa dijamin," tulis FT.
Kuroda juga dituliskan telah menolak seruan untuk mempercepat perbaikan sistem penunjukan pimpinan ADB.
"Dalam beberapa tahap, sistem itu dalam direview dan selanjutnya diperbaiki, tapi isu itu adalah dalam jangka panjang untuk dijalankan," kata Kuroda.
Kepala hubungan eksternal ADB, Omana Nair kepada AFP tak mau berkomentar atas laporan FT tersebut.
(qom/ir)











































