Banyak analis yang pesimistis keputusan The Fed akan membantu menyelamatkan AS dari jurang resesi. Keputusan The Fed menurunkan suku bunga 75 basis poin menjadi 3,5% hanya akan memberi pencerahaan sesaat.
"Kabar baiknya adalah The Fed mengatakan ke pasar, mereka telah melakukan pekerjaannya dimana ada sebuah risiko ketidakstabilan di pasar finansial yang akan memukul perekonomian global," ujar Avery Shenfeld dari CIBC World Market seperti dikutip dari AFP, Rabu (23/1/2008).
"Tapi berita buruknya adalah sentimen berubah sangat buruk yakni the Fed tak dapat menunggu hingga pertemuan pekan depan," tambahnya.
Pelemahan bursa-bursa global, termasuk AS memaksa The Fed menggelar rapat darurat pada Selasa (22/1/2008). Pertemuan yang biasa disebut Federal Open Market Committee (FOMC) sedianya baru dilaksanakan pada 29-30 Januari mendatang.
Namun The Fed tak bisa diam melihat kondisi pasar finansial yang disebut George Soros sebagai yang terburuk sejak perang dunia kedua itu. Penurunan suku bunga hingga 75 basis poin menjadi 3,5% itu sekaligus merupakan penurunan suku bunga yang terbesar dilakukan oleh The Fed.
Sayangnya, secara jangka panjang pertumbuhan ekonomi AS masih berada dalam tekanan. Keputusan the Fed itu dinilai tak cukup sakti untuk membalikkan tren pelemahan ekonomi.
"Perkiraan kami adalah resesi akan terjadi dan The Fed perlu membawa suku bunga riil ke level nol persen," ujar Keith Hembre, ekonom dari First American Fund.
Joel Naroff dari Naroff Economic Advisor menyatakan bahwa langkah terakhir the Fed menunjukkan bahwa Bernanke-lah tokoh utama dibalik semua pergerakan ini.
"Sayangnya, Mr Bernanke sepertinya hanya beraksi jika ditekan hingga ke dinding," kritik Naroff.
"Dan ini adalah krisis kedua dalam lima bulan. Bernanke telah gagal untuk mengenali dampak dari krisis subprime pada pertemuan 7 Agustus lalu," imbuhnya.
Robert Brusca, ekonom dari FAO mengatakan, langkah the Fed bisa memberi sinyal yang salah pada pasar dan menunjukkan bahwa pasar bisa mendikte bank sentral paling berpengaruh di dunia itu.
"Ini mungkin preseden yang sangat buruk bagi the Fed yang menurunkan suku bunga untuk menstabilisasi pasar saham. Mungkin yang terburuk adalah bahwa the Fed melakukannya sangat cepat menjelang pemilu sehingga memberi persepsi adanya tekanan politik," kritiknya.
"Itu sama halnya juga dengan memberi fakta bahwa The Fed telah menurunkan suku bunga pada episode kali ini di bawah tekanan kondisi pasar yang kolaps. Pasar sepertinya bisa melakukan bullying kepada The Fed," tambahnya.
"Resesi di AS tak bisa dihindari dan sudah dimulai. Dan resesi kali ini bisa sangat buruk, dalam dan luar, lebih buruk dari resesi di era 1990-1991 dan 3001," ujar Nouriel Roubini, ekonom dari New York University.
(qom/ddn)











































