BI: Jangan Hilang Kewaspadaan

BI: Jangan Hilang Kewaspadaan

- detikFinance
Rabu, 23 Jan 2008 14:06 WIB
Jakarta - Pasar finansial sudah rebound setelah Bank Sentral AS (The Fed) mengumumkan penurunan suku bunga. Namun para investor sebaiknya tetap waspada karena pelemahan ekonomi AS belum akan sirna hingga beberapa bulan mendatang.

Peringatan itu disampaikan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda S Goeltom di sela-sela peluncuran buku Essays in Macroeconomic Policy, The Indonesian Experience di Toko Buku Gramedia, Jalan Matraman Raya, Jakarta, Rabu (23/1/2008).

"Dalam keadaan saat ini seharusnya tidak hilang kewaspadaan karena permasalahan di AS belum selesai dampaknya sampai beberapa bulan ke depan, masih diwarnai berbagai report dari finansial institution mengenai keadaan keuangannya," jelas Miranda.

Ia mengingatkan, sejumlah institusi finansial belum merilis laporan keuangannya. Dan jika ada lagi institusi yang melaporkan kerugian seperti yang sudah-sudah, maka menurut Miranda, turbulensi akan kembali muncul.

"Belum semua finansial institution memberikan annual report-nya. Jadi ada kemungkinan kita melihat turbulensi seperti ini," ujar Miranda.

Miranda menjelaskan, institusi finansial kini mememang sedang menderita akibat subprime mortgage. Mereka pun harus mencari pinjaman dana baik dari swasta maupun pemerintah.

"Misalnya Citigroup yang meminjam dari Temasek karena mereka harus me-write off US$ 18 miliar," paparnya.

Miranda menyambut baik keputusan The Fed yang diluar kebiasaan sekaligus mengukir sejarah baru penurunan suku bunga terbesar. Hal itu dikarenakan kondisi pasar Finansial sudah sedemikian buruk.

"Sinyal itu bahwa mereka merasa penting sekali. Biar bagaimana pun harus kita akui bahwa saling berjatuhannya satu persatu finansial institusi yang begitu besar di dunia menimbulkan kegalauan pada semua pemain. Menimbulkan kepanikan, terutama bagi mereka yang bermain di pasar uang," urai Miranda.

Dan kepanikan itu menurut Miranda sudah ditunjukkan pada perdagangan saham kemarin di seluruh dunia. Bahkan pasar saham di India sempat dihentikan setelah turun lebih dari 11%, sementara Indonesia sempat turun hingga 10%.

Namun menurut Miranda, penurunan suku bunga oleh The Fed plus paket kebijakan stimulus yang akan dirilis Presiden AS George Walker Bush telah menyelamatkan pasar saham pada hari ini.

"Hari ini saya lihat pasar sudah rebound, rupiah mendekati lagi 9.400 dan sekarang sudah 9.300 sekian," imbuhnya.

Menurut Miranda, Indonesia tidak akan bisa lepas dari kondisi gejolak di pasar dunia itu. Hanya saja, perlu usaha agar dampaknya tidak terlalu besar.

"Kita pasti kena dampak karena kita sudah open economy tapi bagaimana supaya dampaknya bisa diperkecil," pungkasnya (qom/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads