FBI Investigasi Krisis Subprime

FBI Investigasi Krisis Subprime

- detikFinance
Rabu, 30 Jan 2008 10:26 WIB
New York - Federal Bureau of Investigation (FBI) tengah melakukan investigasi 14 perusahaan terkait krisis subprime mortgage di AS yang berakhir pada menggelembungnya kredit macet.

FBI tidak menyebutkan nama-nama perusahaan yang sedang diinvestigasi itu, namun akan mencakup pengembang, pemberi kredit subprime dan bank-bank investasi.

Pejabat FBI seperti dikutip dari BBC, Rabu (30/1/2008) menyatakan tengah mencari kemungkinan adanya kecurangan akuntansi dan juga insider trading atau perdagangan orang dalam.

"Kasus ini dapat menyeret ke tuntutan perdata ataupun pidana," ujar FBI dalam pernyataannya.

FBI juga menjelaskan, penyelidikan atas masalah ini disebabkan karena krisis subprime mortgage terus meningkat ancamannya terhadap perekonomian nasional AS. Dikatakan FBI, ada sekitar 1.200 kasus pembobolan mortgage selama tahun fiskal 2007. Jumlah tersebut meningkat pesat dibandingkan tahun 2006 yang hanya 400.

Untuk penyelidikan kasus ini, FBI menjalin kerjasama dengan Securities and Exchange Commission (SEC) atau Bapepam AS. SEC sejauh ini telah membuka sekitar tiga lusin investigasi yang berhubungan dengan kolapsnya sektor subprime di AS.

Target dari penyelidikan oleh SEC itu meliputi UBS, Morgan Stanley, Merrill Lynch dan Bear Stearns. Namun tidak jelas apakah perusahaan-perusahaan itulah yang kini ikut diselidiki FBI.

Krisis subprime mortgage bermula saat AS menerapkan kebijakan suku bunga murah. Bank-bank pun berlomba memberikan kredit perumahan berisiko tinggi atau subprime mortgage, termasuk kepada para peminjam yang tidak memiliki catatan keuangan yang baik. Dan ketika para debitor itu tak mampu membayar, kredit macet pun melanda perbankan.

Dampak krisis tersebut meluas di seluruh dunia karena banyak perbankan yang memiliki eksposure di surat berharga yang berhubungan dengan subprime mortgage. Krisis itu pula yang menjadi salah satu pemicu guncangan pasar saham dunia pada Agustus 2007 dan awal tahun 2008 ini.

Krisis tersebut juga harus dibayar mahal karena sejumlah bank investasi besar seperti Citigroup, Morgan Stanley, Lehman Brothers harus mendapatkan suntikan mahal karena write-off besar-besaran.

(qom/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads