Hal tersebut disampaikan Deputi Gubernur BI Budi Mulya usai Rapat Dewan Gubernur BI, di Gedung BI, Jakarta, Rabu (6/2/2008).
Berdasarkan data BI, cadangan devisa per 28 Desember 2008 mencapai US$ 56,96 miliar. Namun menurut Budi, posisi terakhir cadangan devisa per hari ini mencapai US$ 56 miliar.
Ia mengakui bahwa sebagian cadangan devisa memang berkurang untuk intervensi menstabilkan rupiah. Seperti diketahui, nilai tukar rupiah pada pertengahan Januari sempat melemah mendekati 9.500 per dolar AS, menyusul gejolak di pasar finansial.
"Tapi pengeluarannya tidak hanya untuk intervensi saja. Pengeluaran juga bisa untuk membayar utang, stabilisasi kurs dll. karena kita merupakan negara yang masih punya liabilities keluar. Tapi yang jelas bukan ke IMF lagi," jelas Budi.
Menurut Budi, cadangan devisa juga digunakan untuk membayar utang yang jatuh temponya sudah terjadwal.
Sementara sumber cadangan devisa, kata Budi, berasal dari penerimaan minyak, pinjaman luar negeri dan penerbitan obligasi negara.
BI memperkirakan Neraca Pembayaran Indonesia di triwulan I 2008 mencatat surplus. Menurut Gubernur BI Burhanuddin Abdullah, dengan perkembangan tersebut, serta sentimen positif terhadap kebijakan yang ditempuh otoritas moneter dan pemerintah, stabilitas nilai tukar di bulan Januari 2008 tetap terjaga dengan tingkat volatilitas yang rendah.
Menurut Burhanuddin, kondisi ini didukung pula oleh masuknya kembali aliran modal asing pada akhir Januari 2008. Sampai dengan Januari 2008, cadangan devisa mencapai US$ 56 miliar atau setara dengan 5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. (qom/ir)











































