"Saya rasa persoalan yang ada konsideran BI adalah risiko inflasi dan risiko pertumbuhan ekonomi, kalau dua-duanya dianggap sudah seimbang tentu keputusan BI merefleksikan hal itu," ujar Menkeu Sri Mulyani usai rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Rabu (6/2/2008).
Anggota Komisi XI Dradjad Wibowo mengatakan, bila suku bunga ditahan dana asing masih bisa masuk ke Indonesia ditengah ancaman resesi ekonomi AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini kata Dradjad, situasi psikologis pasar sedang tidak nyaman, dengan adanya resesi dan kerugian yang dialami lembaga keuangan dunia.
"Ada baiknya Indonesia menahan suku bunga guna memberikan rasa aman dan nyaman bagi investor," katanya.
Menurut Dradjad perbedaan suku bunga antara the Fed dan BI Rate bisa dipertahankan pada level 5%. "Mungkin 1-2 buan lagi turun ke spread yang wajar atau aman yakni sekitar 4%," ucap Dradjad.
Sementara di kantor presiden, Menkeu mengatakan bertahannya BI Rate 8% karena BI melihat potensi inflasi masih lebih serius dibandingkan dampak terhadap pelemahan ekonomi.
"Karena beberapa faktor ini, jadi keseimbangannya lebih baik terjaga pada level sekarang," ungkap Menkeu sebelum rakortas persiapan jawaban interpelasi BLBI di kantor presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Rabu (6/1/2008).
Menkeu merasa lebih baik menjaga BI Rate di level saat ini, sampai melihat tensi kenaikan harga tidak berpengaruh pada tren inflasi kedepan.
Sementara itu ditempat yang sama Menko Perekonomian Boediono berharap keputusan yang diambil BI merupakan keputusan terbaik menghadapi situasi ekonomi saat ini.
"BI melihat situasi sekarang ini lalu melakukan evaluasi, nampaknya itu yang terbaik dan saya kira pemerintah tetap mendukung," ujar Boediono.
"Kita tunggu saja perkembangan harga bisa stabil atau turun, yang lain-lain komponen indeks harga konsumen dan lainnya masih stabil," tambah Boediono.
(ir/qom)











































