Laba BII 2007 Turun 36%

Laba BII 2007 Turun 36%

- detikFinance
Kamis, 14 Feb 2008 18:29 WIB
Jakarta - PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII) mencatat penurunan laba bersih tahun 2007 sebesar 36% menjadi Rp 405 miliar dibanding tahun 2006 yang sebesar Rp 634 miliar.

Kinerja BII tahun 2007 dipengaruhi oleh kerugian WOM Finance akibat naiknya biaya provisi untuk kredit bermasalah (NPL) pada anak perusahaan tersebut.

Terjadi juga penurunan laba bersih terjadi karena adanya pelemahan pendapatan bunga bersih 4%  menjadi Rp 2,526 triliun dibanding tahun 2006 sebesar Rp 2,628 triliun. Sedangkan pendapatan operasional naik 22% menjadi Rp 1,269 triliun dibanding tahun 2006 sebesar Rp 1,041 triliun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami telah menjelaskan bahwa biaya provisi yang akan dibentuk selama kuartal keempat di WOM Finance bertujuan untuk memenuhi peraturan dan ketentuan Bank Indonesia. Hal ini akan memperkuat neraca WOM dan posisi yang lebih baik untuk tumbuh lebih kuat pada tahun 2008 sejalan dengan perkembangan industri sepeda motor," kata kata Henry Ho, Presiden Direktur BII dalam siaran pers, Kamis (14/2/2008).

WOM mengumumkan kerugian Rp 241 miliar dengan biaya provisi sebesar Rp 712 miliar. Bisnis inti WOM terus berjalan baik dengan pangsa pasar sekitar 10%, penjualan selama 2007 sebesar 476.000 unit dibandingkan dengan tahun 2006 sebesar 401.000 unit, dan pembiayaan bersih tumbuh menjadi Rp 4,825 triliun dibandingkan Rp 3,979 triliun tahun lalu.  Sedangkan pendapatan dari penjualan naik menjadi Rp 1,349 triliun dari Rp 1,067 triliun pada tahun 2006.

Bisnis inti BII tetap kuat dengan pertumbuhan kredit sebesar 26%. Total kredit tahun 2007 sebesar Rp 33,056 triliun dibanding tahun 2006 sebesar Rp 26,263 triliun.  

Jumlah simpanan nasabah relatif tidak berubah sesuai dengan ekspektasi dan BII sebesar Rp 36,971 triliun dibanding 2006 sebesar Rp 37,117 triliun.

Diakui BII, pendapatan bunga bersih relatif lebih rendah menjadi Rp 2,526 triliun disebabkan ketatnya persaingan di industri perbankan, spread yang lebih kecil serta pemenuhan ketentuan Bank Indonesia yang berkaitan dengan konsolidasi manajemen risiko dengan WOM.

Fee income tumbuh 22%, terutama karena kenaikan pendapatan dari transaksi trade service, wealth management dan jasa remittance, sedangkan biaya operasional lainnya dapat dijaga pada Rp 2,385 triliun, naik 6% dibandingkan tahun sebelumnya. (ir/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads