Jurus itu diperagakan Burhanuddin ketika kamera dan recorder wartawan mengepung Burhanudin Abdullah setibanya di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Jumat (15/2/2008). Tapi ia hanya menundukan kepala dan tidak melayani cecaran pertanyaan.
Baru saat disinggung fisiknya yang terlihat lebih kurus, ia memberi tanggapan pendek. "Yah maklumlah," ujar Burhanudin lirih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi setelah 'ditenangkan' oleh Mensesneg Hatta Rajasa, baru Burhanuddin bersedia menyampaikan keterangan tentang materi pembicaraan dengan Presiden SBY. Tapi ternyata itu pun tanpa sesi tanya jawab.
Melihat rombongan Dewan Gubernur BI turun dari podium, para wartawan berloncatan menyambar peralatan masing-masing. Mereka bergegas mengejar Burhanudin Abdullah.
Tapi yang diburu sudah siap dengan 'jurus' diam seribu bahasa. Berikut petikan tanya jawab yang berlangsung dalam kerumuman padat dan bergerak terburu-buru.
Apa benar Bapak menolak akan memenuhi panggilan KPK sebelum ada putusan MK soal sengketa kewenangan antara KPK dan BI?
"Statement saya tempo hari saya ingin menempatkan diri sebagai law abiding citizen. Yaitu warga negara yang taat hukum. Kalau hukum menghendaki bahwa saya harus mengikuti semua proses, saya ikuti proses itu dengan sebaik-baiknya.
Artinya Pak Burhan siap jika dipanggil KPK minggu depan?
"Sebagai warga negara yang baik saya siap. Saya akan ikuti dan patuh pada hukum"
Kemungkinan nanti langsung ditahan?
(Tidak ada jawaban)
Apa ada langkah hukum lain akan ditempuh selain mengajukan sengketa kewenangan ke MK?
"Nanti kita lihatlah dalam prosesnya"
Jadi Bapak akan menunggu keputusan MK dan ijin presiden (penuhi panggilan KPK)?
(Tidak ada jawaban)
Bapak akan datang jika dipanggil KPK?
(Tidak ada jawaban)
Tadi soal kasus hukum disinggung Pak (dalam pembicaraan dengan SBY)?
"Disinggung"
Wawancara terhenti sampai di situ. Burhan sudah sampai di mobilnya dan bergegas menyusup ke dalamnya.
(lh/ir)










































