Hal ini disampaikan oleh Deputi Menneg BUMN bidang Perbankan dan Jasa Keuangan Parikesit Soeprapto usai rapat kerja dengan Komisi V DPR RI, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta (20/2/2008).
"Apapun nanti alternatifnya, BTN harus eksis itu intinya. Kita juga sadar bahwa bank fokus seperti BTN diperlukan, kalau merger kan hilang, jadi apapun kajiannya BTN harus tetap ada." tandasnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama BTN Iqbal Latanro mengatakan BTN saat ini sedang melakukan kajian internal opsi apa yang nanti akan dipilih untuk privatisasi.
"Pemerintah memberi kesempatan kepada BTN untuk mengkaji mana yang paling bagus, hasil kajiannya belum selesai karena untuk membuat langkah strategis butuh waktu," tuturnya.
Menurut Iqbal, untuk mendukung pendanaan pembiayaan, BTN akan menerbitkan obligasi sebesar Rp 1 triliun pada akhir semester I-2008.
"Underwriter-nya sedang dipilih tapi saya belum tahu siapa karena masih ada negoisasi tender," ujarnya.
Di tahun ini, BTN mentargetkan kredit tumbuh menjadi Rp 10,8 triliun atau meningkat 20 persen dari pencapaian kredit 2007 yang sebesar Rp 7,8 triliun.
Sementara mengenai suku bunga kredit, Iqbal mengatakan suku bungan kredit BTN di kisaran 8,75 persen.
"Kami juga ikuti bunga pasar tapi tentu kami tidak ingin perang bunga karena akan merugikan konsumen, kalau pasar turun maka kami juga akan menurunkan suku bunga, kalau tidak nanti akan ditinggal pasar," katanya.
Selain melalui obligasi, pendanaan kredit BTN dikatakan Iqbal sebesar 40 persen diperoleh dari pengembalian pokok kredit dari para debitor. (dnl/qom)











































