Presiden Direktur Bank Niaga Huseimi Albakri menjelaskan dalam jumpa pers di Graha Niaga, Jakarta, Kamis (21/2/2008).
"Sekarang masih dikaji. Butuh waktu sekitar 3 sampai 6 bulan untuk tahu hasilnya," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun ia mengaku baik Bank Indonesia dan Dirjen Pajak sudah mendukung adanya perubahan dalam UU Perpajakan.
"Kalau berlaku, berarti merger adalah pilihan yang bagus. Tapi kalau harus bayar pajak yang terlalu besar, merger mungkin tidak bagus. Dan kami cari opsi lain," katanya.
Sementara Wakil Presdir Bank Niaga Daniel James Rompas menyatakan, kajian itu dimulai sejak bulan Januari 2008 mengharapkan adanya insentif merger dari pemerintah.
Pertumbuhan kredit
Huseimi menambahkan, pada 2008 ini Bank Niaga menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 20 persen. Lebih rendah dari tahun lalu yang 26 persen.
Hal ini lebih disebabkan pengaruh perlambatan ekonomi AS yang berdampak ke Indonesia. "Meski tidak besar, tapi ada dampaknya," katanya.
Sementara pertumbuhan depositonya diperkirakan sekitar 14 persen, dimana 2007 mencapai 19 persen.
Sedangkan untuk market share KPR, jika 2007 mencapai 9,6 persen, tahun ini diharapkan bisa naik jadi 10 persen.
Sindikasi
Bank Niaga bersama CIMB, induk usahanya menargetkan minimal 3 sindikasi program tahun ini. "Kami sudah pernah bersinergi, dan rencananya akan kami tingkatkan pada tahun ini," kata Direktur Korporasi Bank Niaga Catherine Hadiman.
Pada 2006 sindikasi keduanya mencapai nilai US$ 60 juta, dan pada 2007 mencapai US$ 35 juta. Sementara pada 2008 minimal tiga sindikasi akan digarap bersama.
"Karena kita bersinergi, jadi kita inginnya jadi arranger. Kalau cuma partisipan, biasanya nilainya kecil, jadi Bank Niaga saja cukup," katanya.
Sektor yang tengah dievaluasi adalah agriculture, infrastructure termasuk pembangkit listrik, dan manufacturing.
Selain itu Bank Niaga juga tengah melirik pembiayaan jalan tol di Jabotabek dalam bentuk Rupiah.
"Kita lihat proyek jalan tol tahun ini, mungkin dalam bentuk Rupiah. Lain dengan infrastruktur seperti pembangkit listrik dan telekomunikasi yang masih butuh USD," katanya.
Ia mengakui, deposito valas Bank Niaga agak ketinggalan dengan ekspansi kredit valas yang dilakukan. Karenanya Bank Niaga berniat mengembangkan struktur depositnya. Meski begitu, ia menyatakan Bank Niaga belum punya rencana obligasi dolar tahun ini.
Bank Niaga juga menargetkan bisa menjual ORI004 sebanyak Rp 300 miliar kali ini. Ini adalah pertama kali Bank Niaga ikut.
(lih/ir)











































