Hal ini disampaikan oleh Direktur Treasury dan Internasional BNI Bien Subiantoro usai acara penandatanganan pinjaman bilateral antara BNI dengan Standard Chartered Bank di Gedung BNI 46, Jakarta, Kamis (21/2/2008).
"Kita lihat (obligasi), makanya setelah pinjaman ini efektif kita lihat lagi kebutuhan funding valas untuk restrukturisasi pinjaman untuk mendapatkan cost of fund lebih rendah," jelasnya.
Bien mengatakan yang pasti BNI setelah mendapatkan pinjaman ini mempunyai batas waktu 6 minggu untuk tidak boleh mendapatkan pinjaman baru. "Jadi kalau mau terbitkan bond harus lewat periode itu," imbuhnya.
Mengenai besaran obligasi yang diterbitkan nanti, Bien belum tahu besaran nominalnya. "Tergantung kebutuhan, tapi di dalam RBB (Rencana Bisnis Bank) kita butuh US$ 550 juta di tahun ini untuk pinjaman valas, termasuk pinjaman bilateral US$ 150 juta ini," tuturnya.
Dikatakannya BNI membutuhkan pinjaman baru selain untuk kebutuhan ekspansi bisnis juga untuk refinancing utang valas yang bunganya lebih besar.
"Selain ekspansi bisnis kita ingin menginfrastruktur balanced sheet, setiap bank memiliki funding cost yang mahal jadi kalau ada yang lebih murah, bisa me-replace yang lebih mahal itu, jadi ini untuk me-replace utang jangka panjang yang terdahulu yang harganya masih mahal," urainya.
Dikatakannya utang valas yang bisa di-refinancing oleh BNI di tahun ini adalah sekitar US$ 100 juta. (dnl/ir)











































